Kamis, 29 Agustus 2013

CINTA DAN MAWADDAH (Dari kajian-kajian Tafsir al-Quran dan beberapa referensi yang relevan)


Cinta merupakan satu kata yang bukan saja menyenangkan tapi juga dibutuhkan, tidak hanya oleh manusia, namun jg oleh smua mahluk hidup.

Cinta adalah anugerah Allah. Cinta adalah sesuatu yang mengantar kepada kebahagiaan. Cinta mudah diucapkan, namun sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Bahkan, sementara pakar mengatakan ia tdk dpt dilukiskan, karena itu hanya gejala-gejalanya saja yg dpt dijelaskan.

Begitu banyak definisi tentang cinta yang dikeluarkan oleh para pakar, namun tidak satupun diantaranya yang bisa menggambarkan cinta itu secara utuh dan menyeluruh. Namun, yang pasti cinta mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang positif. Banyak karya-karya besar manusia yang lahir dari cinta, coba tengok megah nan cantiknya Taj Mahal, lihatlah Candi Borobudur atau Candi Prambanan yang menakjubkan, indahnya syair-syair Homerus, dan masih banyak lainnya yang kesemuanya itu lahir dari cinta.

Manusia terdiri dari jasmani, akal dan rasa. Akal memiliki logika, dan cinta pun memiliki logikanya sendiri. Akal tidak dapat menggabungkan dua hal yang bertolak belakang, tetapi cinta dapat menggabungnya. Bukankah ada sementara orang yang berkata “benci tapi rindu” atau "berharap namun cemas"???. Bagaimana dua hal yang bertentangan ini dapat bertemu kalau bukan rasa yang mempertemukannya.

Jenis cinta ada bermacam-macam. Ada cinta kepada Tuhan, ada cinta kepada harta, ada cinta kepada manusia, dsb. Cinta-cinta itu ada yg cepat perolehannya, namun jg cepat layunya. Ada yg lambat perolehannya, baru terkesan di hati, namun lambat pula pudarnya, bahkan tidak pernah pudar sama sekali, dsb.

Cinta kepada Allah dibuktikan dengan taat dan patuh kepada-Nya. Taat menjalankan perinta-perintah-Nya, patuh menjauhi dan menghindari semua larangan-Nya. Allah mencintai mereka yang muhsinin, orang-orang yang berbuat baik kepada orang yang pernah melakukan kesalahan kepadanya. Allah mencintai orang-orang yang bertakwa, yang sabar, bertaubat, yang bersatu padu, yang mengikuti Nabi Muhammad dan mereka yang berakhlak mulia.

Cinta kepada sesama manusia ada beberapa aspek, seperti cinta kepada pasangan, cinta kepada anak, cinta kepada orang tua, cinta kepada guru dan yang lainnya.

Cinta kepada manusia adl sebuah dialog antar dua aku. Cinta kepada manusia bukanlah melebur siapa yang dicintai kepada diri kita. Cinta kepada manusia harus tetap memelihara kepribadian yang dicintainya, tidak memaksanya menjadi seperti diri kita.

Cinta kepada manusia bermula dari pengenalan kepadanya, kemudian timbul sebuah penghormatan, lalu timbul tanggung jawab dan akhirnya timbul kesetiaan. Tanpa hal-hal tersebut, maka semua itu bukanlah cinta. Bukanlah cinta, mereka yang tidak mengenal orang yang dicintainya, bukanlah cinta bagi mereka yang tidak menghormati siapa yang dicintainya, bukanlah cinta jika dia melecehkan orang yang dicintainya, dan bukanlah cinta mereka yang tidak setia kepada yang dicintainya.

Puncak dari cinta manusia kepada pasangannya oleh al-Qur’an dinamai mawaddah, yaitu kosongnya jiwa dari segala yang buruk. Sehingga betapa pun buruk yang dicintai, hatinya tidak pernah melihat keburukannya itu. Betapa pun buruk perlakuan pasangannya, hati telah kosong dari segala keburukannya sehingga yang buruk pun dilihat menjadi kebaikan. Mawaddah jg disebut cinta plus. Bukankah yg mencintai sesekali hatinya kesal, sehingga cintanya pudar, bahkan putus. Tetapi yg bersemai dalam hati mawaddah, tidak lg akan memutuskan hubungan, seperti yg biasa terjadi pada org yg bercinta. Ini disebabkan karena hatinya begitu lapang dan kosong dari keburukan, shg pintu-pintunya pun telah tertutup untuk dihinggapi keburukan lahir dan batin (yg mungkin datang dari pasangannya). Dan inilah yg harus diperjuangkan bg orang-orang yg menjalin "cinta kasih".

MAKNA SAKINAH, MAWADDAH, WA ROHMAH DAN TALI-TEMALI PEREKAT PERNIKAHAN

1. Sakinah (ﺴﻜﻨﺔ), terambil dari kata sakana yaitu diam, tenang setelah sebelumnya goncang dan sibuk. Dari sini, rumah dinamai maskan karena dia tempat memperoleh ketenangan setelah sebelumnya si penghuni sibuk di luar rumah. Allah mensyari’atkan bagi manusia pernikahan, agar kekacauan pikiran dan gejolak jiwa karena naluri untuk mempertahankan eksistensinya dan pemenuhan kebutuhan untuk selalu dekat dengan pasangannya dapat mereda dan masing-masing memperoleh ketenangan.

2. Mawaddah (مودة), terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf ﻭ (wawu), dan ﺩ (dal) berganda (tasydid), yang mengandung arti cinta dan harapan. Mawaddah adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Dia adalah cinta plus. Bukankah yang mencintai, sesekali hatinya kesal sehingga cintanya pudar bahkan putus. Tetapi yg bersemai dalam hati mawaddah, tidak lg akan memutuskan hubungan, seperti yg biasa terjadi pada org yg bercinta. Ini disebabkan karena hatinya begitu lapang dan kosong dari keburukan, shg pintu-pintunya pun telah tertutup untuk dihinggapi keburukan lahir dan batin (yg mungkin datang dari pasangannya). “Kalau Anda menginginkan kebaikan dan mengutamakannya untuk orang lain, maka Anda telah mencintainya. Tetapi jika Anda menghendaki untuknya kebaikan, serta tidak menghendaki untuknya selain itu – apapun yg terjadi – maka mawaddah telah menghiasi hati Anda.

3. Rohmah (ﺭحمة), makna kata ini mirip dg kata mawaddah. Sementara ulama menjadikan tahap rahmat pd suami-istri lahir bersama lahirnya anak, atau ketika pasangan suami istri itu tlah mencapai usia lanjut. Ini krn rahmat, “tertuju kpd yg dirahmati, sedang yg dirahmati itu dlm keadaan butuh, dan dg demikian rahmat tertuju kpd yg lemah” dan kelemahan dan kebutuhan itu sangat dirasakan di masa tua.

TALI-TEMALI PEREKAT PERNIKAHAN

Cinta, mawaddah, rahmah, dan amanah Allah, itulah tali-temali ruhani perekat pernikahan, sehingga kalau cinta pupus dan mawaddah putus, masih ada rahmat, dan kalau pun ini tidak tersisa, masih ada amanah, dan selama pasangan itu beragama, amanahnya terpelihara, karena Al-Quran memerintahkan.

 وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Pergaulilah istri-istrimu dengan baik, dan apabila kamu tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan tali perkawinan), karena boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, tetapi Allah menjadikan padanya (di balik itu) kebaikan yang banyak. (QS. Al-Nisa’ [4]: 19)

Rabu, 28 Agustus 2013

KEBERPASANGAN ADALAH FITRAH


Keberpasangan adalah fitrah. Oleh karena itu, setiap makhluk pasti mempunyai pasangan. Marilah kita lihat sejenak dalam kehidupan alam semesta ini, semua mempunyai pasangan. Ada jantan, ada betina, ada siang, ada pula malam. Bahkan sesuatu yg dulu belum kita ketahui ternyata mempunyai pasangan, misalnya dalam atom dikenal istilah proton (+) dan elektron (-). Keberpasangan juga merupakan fitrah bagi kita, manusia. Namun, keberpasangan antara alam dan manusia mempunyai perbedaan. Mari kita perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar  lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Syura [42]: 11)

Binatang ternak berpasangan untuk berkembang biak, manusia pun demikian, begitu pesan ayat di atas. Tetapi dalam ayat di atas tidak disebutkan kalimat mawaddah dan rahmah, sebagimana ditegaskan ketika Al-Quran berbicara tentang pernikahan manusia.


“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Al-Rum [30]: 21)

Mengapa demikian? Tidak lain karena manusia diberi tugas oleh-Nya untuk menjadi khalifah di bumi.

Pada dasarnya, manusia tidak senang dengan kesendirian. Ia membutuhkan teman untuk mencurahkan isi hatinya, dengan ngobrol, bercanda, dan menumpahkan isi hatinya kepada orang yang disayanginya. Oleh karena itu, agama mensyariatkan pernikahan agar keberpasangan dapat menjadi ketenangan bagi umat manusia.

SIAPAKAH PASANGAN KITA? – EGALITARIANISME DLM PERNIKAHAN –

Pasangan kita tidak lain adalah suami (istri) kita. Dia bukanlah orang lain, tetapi dia adalah diri kita. Apabila kita menginginkan sesuatu, maka sebelum kita mengucapkan, suami (istri) kita sudah dapat menebaknya dengan tepat apa yang kita inginkan, karena dia adalah diri kita. Begitu pula sebaliknya. Semakin terjadi persesuaian antara suami-istri, maka semakin bahagialah mereka.
Untuk itu dalam memilih pasangan perlu ada kesetaraan, baik itu kesetaraan dalam beragama, kesetaraan dalam konsep hidup, kesetaraan dlm berfikir, dll. Nabi pun menganjurkan “lihatlah wanita itu sebelum kau nikahi”. Nabi mengatakan seperti itu dg maksud melanggengkan pernikahan.
Berkaitan dg kesetaraan dlm pandangan hidup dan kesetaraan dlm beragama, maka tidak dianjurkan menikah antar agama. Larangan ini dilatarbelakangi oleh keinginan menciptakan “sakinah” dalam keluarga yg merupakan tujuan pernikahan. Perkawinan baru akan langgeng dan tentram kalau ada persamaan antara suami-istri. Jangankan perbedaan agama, perbedaan budaya atau bahkan perbedaan pendidikan pun tidak jarang menimbulkan kesalahpahaman dan berakibat kegagalan dalam mencapai tujuan mahligai pernikahan.


PERBEDAAN DALAM PERSAMAAN

Berpasangan itu harus ada bedanya. Misalnya sepatu kanan harus berbeda dengan sepatu kiri agar bisa digunakan. Tajam dan kuatnya jarum harus diimbangi dengan lemahnya kain agar dapat digunakan menjadi baju. Seandainya tajam dan kuatnya jarum itu tidak diimbangi dg lemahnya kain, tapi dg kerasnya kain seperti tembok, maka kita tidak dapat membuat baju.
Apakah lemahnya kain, menandakan rendahnya derajat kain? Tidak. Itu merupkn fenomena kesetaraan, karena kuatnya jarum kalau ia sendirian, tanpa kain, maka tidak akan terbentuk baju. Karena itu, manusia yg sendirian maka banyak sesuatu yg belum optimal atau terwujud.
Keberpasangan sesungguhnya adalah menyatukan jiwa, pikiran, perasaan dan jasmani kepada suami (istri) kita.

SEMOGA KITA BERHASIL...

Jumat, 26 Juli 2013

INTROSPEKSI


Mereka yang suka melakukan kesalahan dan terjerumus ke dalam dosa, jngan dikira tidak pernah rindu kepada kebaikan. Mereka pun adalah manusia sepertimu yang mempunyai rasa rindu. Dan aku yakin bahwa mereka terkadang menyadari bhw kehidupannya telah salah, dan hatinya sangat berkeinginan untuk mereguk nikmatnya hidup secara baik, dalam lingkungan baik, dan berakhir dengan baik.....

Maka, jangan pernah berbuat kasar kepada mereka. Bersikap lembutlah. Karena betapapun putihnya dirimu, engkau bukanlah tuhan. Dan betapapun buruk mereka, mereka tetap mempunyai kesempatan untuk bertaubat...

Surga bukan hanya untukmu!!!!!!!!!




Rabu, 24 Juli 2013

Membaca surat al-ikhlas dan sholawat di sela-sela sholat tarawih, bolehkah?



هل يجوز قراءة {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} بين كل أربع ركعات، والصلاة على النبي صلى الله عليه وآله وسلم بين كل ركعتين في صلاة التراويح أم لا.


Ketika pelaksanaan shalat Tarawih, apakah boleh membaca surat al-Ikhlâsh setiap selesai dari empat rakaat dan membaca shalawat kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam setiap selesai dari dua rakaat?

الجواب: امانة الفتوى
Jawaban: Dewan fatwa
 


جاء الشرع الشريف بالأمر بقراءة القرآن الكريم على جهة الإطلاق من غير تقييد بوقت دون وقت أو حال دون حال إلا ما استُثنِي من ذلك كحال الجنابة مثلًا، وقد نبَّه النبي صلى الله عليه وآله وسلم على عظيم فضل سورة الإخلاص واستحباب قراءتها ليلًا بقوله لأصحابه رضي الله عنهم: ((أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالُوا: وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ)) رواه مسلم عن أبي الدرداء والبخاري بنحوه عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنهما، وعن عائشة رضي الله عنها: ((أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وآله وسلم بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ، وَكَانَ يَقْرَأُ لأَصْحَابِهِ فِي صَلاتِهِ فَيَخْتِمُ بِـ{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}، فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وآله وسلم، فَقَالَ: سَلُوهُ لأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ فسألوه، فَقَالَ: لأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وآله وسلم: أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ)). متفق عليه.

Syariat Islam yang agung menyebutkan perintah membaca Alquran secara mutlak tanpa dibatasi dengan waktu atau kondisi tertentu, kecuali beberapa kondisi yang telah ditetapkan sebagai pegecualian, seperti dalam keadaan junub. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam pun menjelaskan tentang besarnya keutamaan surat al-Ikhlâsh dan anjuran untuk membacanya pada malam hari. Beliau bersabda kepada para sahabat,


أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؟ قَالُوْا: وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؟ قَالَ: ﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

    "Apakah seseorang diantara kalian tidak mampu membaca sepertiga Alquran pada setiap malam?" Para sahabat bertanya, "Bagaimanakah seseorang dapat membaca sepertiga Alquran [dalam satu malam]?" Beliau pun menjawab, "Qul Huwallahu Ahad (surat al-Ikhlâsh) adalah sebanding dengan sepertiga Alquran." (HR. Muslim dari Abu Darda` Rodhiyallahu ‘anhu. Bukhari juga meriwayatkan hadits yang serupa dari Abu Said al-Khudri Rodhiyallahu ‘anhu).

    Diriwayatkan juga dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha bahwa pada suatu ketika, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam mengangkat seorang lelaki untuk memimpin sebuah pasukan kecil. Ketika menjalankan tugasnya, orang tersebut selalu membaca surat al-Ikhlâsh di setiap akhir bacaannya di saat menjadi imam shalat bagi pasukannya. Setelah kembali ke Madinah pasukan tersebut melaporkan apa yang dilakukan pimpinan mereka itu kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam., maka beliau bersabda, "Tanyakanlah padanya mengapa ia melakukan hal itu?" Mereka pun menanyakan hal itu kepadanya, lalu ia menjawab, "Karena surat itu berisi tentang sifat Sang Maha Pengasih dan saya suka untuk membacanya." Maka Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam pun bersabda, "Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah juga suka terhadapnya." (Muttafaq alaih).


    كما أن الصلاة والسلام على النبي صلى الله عليه وآله وسلم من أفضل الأعمال قبولا عند الله تعالى، كما أنها تفتح للأعمال أبواب القبول فهي مقبولة أبدًا، وكما أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم هو شفيع الخلق فالصلاة عليه شفيع الأعمال، وقد أمر الله تعالى بها أمرًا مطلقًا في قوله سبحانه وتعالى: {إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} [الأحزاب: 56]، والأمر المطلق يقتضي عموم الأمكنة والأزمنة والأشخاص والأحوال، فمن ادعى -بلا دليل- أنها مُحَرَّمةٌ في وقت من الأوقات فقد ضيَّق ما وسَّعه الله تعالى؛ لأنه قيَّد المطلَق وخصَّص العامَّ بلا دليل، وهذا في نفسه نوع من أنواع البدعة المذمومة.

    وعليه فقراءة {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} والصلاة على النبي صلى الله عليه وآله وسلم في صلاة التراويح أمر جائز ومشروع لا حرج فيه.
    والله سبحانه وتعالى أعلم
 
    Adapun shalawat kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam, maka ia merupakan salah satu amalan yang paling mudah diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Selain itu, bacaan shalawat juga membuat amalan-amalan seorang hamba dapat diterima oleh Allah, karena shalawat merupakan perbuatan yang pasti diterima oleh-Nya. Dan sebagaimana Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam merupakan pemberi syafaat kepada para makhluk, shalawat kepada beliau juga merupakan pemberi syafaat (pertolongan) bagi amalan-amalan manusia.

    Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bershalawat kepada Nabi-Nya dengan perintah yang bersifat mutlak, yaitu di dalam firman-Nya,

    "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzâb: 56).

    Kemutlakan sebuah perintah menuntut adanya kemutlakan (keumuman) tempat, waktu, person dan keadaan. Maka barang siapa yang mengklaim –tanpa disertai dalil— bahwa shalawat dilarang diucapkan dalam waktu-waktu tertentu maka ia telah menyempitkan apa yang dilapangkan oleh Allah. Hal itu berarti orang tersebut telah membatasi sesuatu yang bersifat mutlak dan mengkhususkan sesuatu yang bersifat umum tanpa disertai dalil. Tindakan seperti ini merupakan salah bentuk perbuatan bid'ah yang tercela.

    Dengan demikian, membaca surat al-Ikhlâsh dan shalawat kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam ketika pelaksanaan shalat Tarawih merupakan perbuatan yang dibolehkan dan tidak ada larangan baginya.

    Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.

Bacaan Takbir Hari Raya, Bid'ahkah?


أرجو من فضيلتكم إفادتنا عن شرعية الصيغة الواردة بتكبير العيدين وهي: "الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر الله أكبر ولله الحمد، الله أكبر كبيرًا، والحمد لله كثيرًا، وسبحان الله بكرة وأصيلا، لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وأعز جنده، وهزم الأحزاب وحده، لا إله إلا الله، ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون، اللهم صل على سيدنا محمد، وعلى آل سيدنا محمد، وعلى أصحاب سيدنا محمد، وعلى أنصار سيدنا محمد، وعلى أزواج سيدنا محمد وعلى ذرية سيدنا محمد وسلم تسليمًا كثيرًا"؛ حيث إن البعض يدعي أنها بدعة وحرام.

Mohon penjelasan berdasarkan syariat mengenai penggunaan bacaan takbir hari raya berikut ini: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lâ ilâha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd. Allahu Akbar kabîra, wal hamdu lillahi katsîra, wa subhânallahi bukrataw wa ashîla. Lâ ilâha wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa a'azza jundah, wa hazamal ahzâba wahdah. Lâ ilâha illallah, wa lâ na'budu ilâ iyyâh, mukhlishîna lahud dîn. Wa law karihal kâfirûn. Allahumma shalli 'alâ sayyidinâ Muhammad, wa 'alâ âli sayyidinâ Muhammad, wa 'alâ ashhâbi sayyidinâ Muhammad, wa 'alâ anshâri sayyidinâ Muhammad, wa 'alâ azwâji sayyidinâ Muhammad, wa 'ala dzurriyyati sayyidinâ Muhammad, wa sallim taslîman katsîra.
Hal ini kami tanyakan karena sebagian orang menganggap bahwa bacaan takbir ini adalah bid'ah dan diharamkan.

الـجـــواب : فضيلة الأستاذ الدكتور علي جمعة محمد
 Jawaban : Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum'ah Muhammad 


التكبير في العيد مندوب، ولم يرد في صيغة التكبير شيء بخصوصه في السنة المطهرة، ولكن درج بعض الصحابة منهم سلمان الفارسي على التكبير بصيغة: "الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد" والأمر فيه على السعة، لأن النص الوارد في ذلك مطلق وهو قوله تعالى: {وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ} البقرة: 185، والمطلق يؤخذ على إطلاقه حتى يأتي ما يقيده في الشرع، ودرج المصريون من قديم الزمان على الصيغة المشهورة وهي: "الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد، الله أكبر كبيرًا، والحمد لله كثيرًا، وسبحان الله بكرة وأصيلا، لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون، اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد وعلى أصحاب سيدنا محمد وعلى أنصار سيدنا محمد وعلى أزواج سيدنا محمد وعلى ذرية سيدنا محمد وسلم تسليمًا كثيرًا"، وهي صيغة شرعية صحيحة قال عنها الإمام الشافعي رحمه الله تعالى: "وإن كبر على ما يكبر عليه الناس اليوم فحسن، وإن زاد تكبيرًا فحسن، وما زاد مع هذا من ذكر الله أحببتُه" اهـ.
    وزيادة الصلاة والسلام على سيدنا محمد وآله وأصحابه وأنصاره وأزواجه وذريته في ختام التكبير أمر مشروع؛ فإن أفضل الذكر ما اجتمع فيه ذكر الله ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم، كما أن الصلاة والسلام على النبي صلى الله عليه وآله وسلم تفتح للعمل باب القبول فإنها مقبولة أبدًا حتى من المنافق كما نص على ذلك أهل العلم؛ لأنها متعلقة بالجناب الأجل صلى الله عليه وآله وسلم.

    وبناء على ذلك فمن ادعى أن قائل هذه الصيغة المشهورة مبتدع فهو إلى البدعة أقرب؛ حيث تحجَّر واسعًا وضيَّق ما وسعه الله تعالى ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم وقيد المطلق بلا دليل، ويسعنا في ذلك ما وسع سلفنا الصالح من استحسان مثل هذه الصيغ وقبولها وجريان عادة الناس عليها بما يوافق الشرع الشريف ولا يخالفه، ونهيُ من نهى عن ذلك غير صحيح لا يلتفت إليه ولا يعول عليه.
    والله سبحانه وتعالى أعلم.

    Mengumandangkan takbir pada hari raya adalah perbuatan yang dianjurkan. Di dalam Sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam tidak ada dalil khusus mengenai bentuk bacaan takbir tertentu. Tapi, sebagian sahabat, seperti Salman al-Farisi, membiasakan sebuah bentuk bacaan takbir tertentu, yaitu: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lâ ilâha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd.

    Terdapat kelonggaran dalam menggunakan bacaan takbir hari raya ini. Karena teks perintah dalam masalah ini bersifat mutlaq (umum), yaitu:

    "Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu." (Al-Baqarah [2]: 185).

    Lafal yang bersifat mutlaq dimaknai sesuai dengan kemutlakannya (keumumannya) itu, sampai ditemukan dalil lain yang membatasinya (taqyîd).

    Penduduk Mesir sejak dahulu kala telah terbiasa mengumandangkan bacaan takbir yang biasa kita dengar. Yaitu: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lâ ilâha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd. Allahu Akbar kabîra, wal hamdu lillahi katsîra, wa subhânallahi bukrataw wa ashîla. Lâ ilâha wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa a'azza jundah, wa hazamal ahzâba wahdah. Lâ ilâha illallah, wa lâ na'budu ilâ iyyâh, mukhlishîna lahud dîn. Wa law karihal kâfirûn. Allahumma shalli 'alâ sayyidinâ Muhammad, wa 'alâ âli sayyidinâ Muhammad, wa 'alâ ashhâbi sayyidinâ Muhammad, wa 'alâ anshâri sayyidinâ Muhammad, wa 'alâ azwâji sayyidinâ Muhammad, wa 'ala dzurriyyati sayyidinâ Muhammad, wa sallim taslîman katsîra.

     Bentuk bacaan takbir ini merupakan bacaan yang benar dan sesuai dengan syarak, sebagaimana dikatakan oleh Imam Syafi'i rahimahullah, "Jika seseorang bertakbir sebagaimana takbir yang dikumandangkan oleh masyarakat saat ini, maka itu baik. Jika dia menambahkan takbir itu, maka itu juga baik. Zikir yang ditambahkan ke dalam bacaan takbir yang ada sekarang adalah sesuatu yang saya sukai."

    Penambahan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam serta kepada para keluarga, sahabat, penolong, istri dan keturunan beliau di akhir lafal takbir merupakan sesuatu yang masyruk. Karena zikir yang terbaik adalah zikir yang di dalamnya terhimpun zikir kepada Allah dan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam. Selain itu, bershalawat kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam dapat membukakan pintu diterimanya amal saleh. Karena, bacaan shalawat senantiasa diterima, bahkan meskipun shalawat itu diucapkan oleh orang munafik, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Karena amalan tersebut berkaitan langsung dengan makhluk terbaik, yaitu Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam.

    Dengan demikian, orang yang menyatakan bahwa orang yang mengumandangkan bacaan takbir yang sudah masyhur ini adalah pelaku bid'ah, maka dirinyalah yang lebih dekat dengan bid'ah. Karena dia telah mempersempit apa yang dilapangkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta membatasi dalil yang mutlaq tanpa alasan.

    Dalam hal seperti ini kita mempunyai kelapangan sebagaimana para salaf saleh kita, yaitu dengan menganggap bentuk bacaan tersebut baik, menerimanya dan membiarkannya menjadi tradisi masyarakat selama tidak bertentangan dengan syariah. Larangan sebagian orang terhadap bentuk bacaan takbir tersebut tidaklah perlu diperhatikan dan tidak dijadikan sandaran.

Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.
 

Rabu, 17 Juli 2013

Sayyidina 'Umar bin Khottob dan utusan Romawi

روي أن رسول ملك الروم جاء إلى عمر فطلب داره فظن أن داره مثل قصور الملوك ، فقالوا : ليس له ذلك ، وإنما هو في الصحراء يضرب اللبن ، فلما ذهب إلى الصحراء رأى عمر -رضي الله عنه - وضع درته تحت رأسه ، ونام على التراب ، فعجب الرسول من ذلك ، وقال : إن أهل الشرق والغرب يخافون من هذا الإنسان وهو على هذه الصفة! ثم قال في نفسه : إني وجدته خاليا فأقتله وأخلص الناس منه . فلما رفع السيف أخرج الله من الأرض أسدين فقصداه ، فخاف وألقى السيف من يده ، وانتبه عمر ولم ير شيئا ، فسأله عن الحال ، فذكر له الواقعة وأسلم ،

Diriwayatkan bahwa ada utusan Raja Romawi datang menghadap sayyidina `Umar. Utusan itu mencari rumah sayyidina `Umar dan mengira rumah sayyidina 'Umar seperti istana para raja. Orang-orang mengatakan, "'Umar tidak memiliki istana, ia ada di padang pasir sedang memerah susu." Setelah sampai di padang pasir yang ditunjukkan, utusan itu melihat sayyidina `Umar -semoga Allah meridhoi beliau- telah meletakkan kantong tempat susu di bawah kepalanya dan tidur di atas tanah. Terperanjatlah utusan itu melihat sayyidina `Umar, lalu berkata, "Bangsa-bangsa di Timur dan Barat takut kepada manusia ini, padahal ia hanya seperti ini. Dalam hati ia berjanji akan membunuh sayyidina `Umar saat sepi seperti itu dan membebaskan ketakutan manusia terhadapnya. Tatkala ia telah mengangkat pedangnya, tiba-tiba Allah mengeluarkan dua singa dari dalam bumi yang siap memangsanya. Utusan itu menjadi takut sehingga terlepaslah pedang dari tangannya. Sayyidina 'Umar kemudian terbangun, dan ia tidak melihat apa-apa.Lantas, sayyidina 'Umar menanyai utusan itu tentang apa yang terjadi. Kemudian, ia menuturkan peristiwa tersebut, dan akhirnya masuk Islam.

 وأقول : هذه الوقائع رويت بالآحاد ، وههنا ما هو معلوم بالتواتر وهو أنه مع بعده عن زينة الدنيا واحترازه عن التكلفات والتهويلات ساس الشرق والغرب وقلب الممالك والدول لو نظرت في كتب التواريخ علمت أنه لم يتفق لأحد من أول عهد آدم إلى الآن ما تيسر له ، فإنه مع غاية بعده عن التكلفات ، كيف قدر على تلك السياسات ؟ ولا شك أن هذا من أعظم الكرامات .


Aku (al-Imam Fakhruddin ar-Rozi) berkata: kejadian-kejadian luar biasa di atas diriwayatkan secara ahad. Adapun yang dikisahkan secara mutawatir adalah kenyataan bahwa meskipun `Umar menjauhi kekayaan duniawi dan tidak pernah memaksa atau menakut-nakuti orang lain, ia mampu menguasai daerah Timur dan Barat, serta menaklukkan hati para raja dan pemimpin. Jika anda mengkaji buku-buku sejarah, anda tak akan menemukan pemimpin seperti 'Umar, sejak zaman Adam sampai sekarang. Bagaimana 'Umar yang begitu menghindari sikap memaksa bisa menjalankan politiknya dengan gemilang. Tidak diragukan lagi, itu adalah karamahnya yang paling besar.


Sumber:
Kitab Tafsir Mafatihul Ghoib
Karya al-Imam Fakhruddin ar-Rozy
Penerbit: Darul Kutub al-'Ilmiyah - Beirut