Minggu, 08 September 2013

BERBAIKSANGKA KEPADA ALLAH

Di dalam Kitab Sullamut taufiq, al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad menuliskan beberapa kewajiban yg berkenaan dg hati, di antaranya adalah husnudhon kepada Allah.

Husnudhon kepada Allah berarti mempunyai sangka baik kepada Allah. Banyak cara di dalam husnudhon kepada Allah, baik dengan memahami sifat-sifat Allah yang Maha Suci dan Maha Mulia, atau dg melihat pemberian dan anugrah Allah yg begitu luas dan banyak. Dg demikian, manusia akan bertambah iman ,ketaatan, dan syukur kepada-Nya, meskipun ada masalah-masalah yg menimpa dirinya.

Husnudhon kepada Allah dlm melaksanakan amal, tidak lain adalah dg cara memperbagus ibadah dan amal soleh, dan mengharapkan ampunan(maghfiroh) Allah. Lawan husnudhon adalah suudhon(berprasangka buruk). Contoh suudhon kepada Allah adalah bahwa Allah tidak mendengar doanya, karena dia banyak dosanya. Atau merasa banyak dosa, shg enggan meminta ampun kepada Allah, krn khawatir/takut dimurkai Allah. Suudhon jg bisa membawa akibat orang pesimis dan berputus asa kpd rohmat Allah. Adakalanya seorang hamba suudhon kpd Allah, krn ia merasa telah melaksanakan ibadah dg baik (sholat misalnya), telah berdzikir, telah berdoa, telah sedekah, tetapi sampai saat ini, ia belum menerima pemberian Allah. Ia merasa permohonannya tidak didengar dan tidak diterima oleh Allah.

Tidak semestinya seorang hamba berpikiran dan berperasaan sempit seperti itu. Bukankah Allah telah dan terus memberikan nikmat kepadanya? Bukankah nafas masih dikandung badan dan aktivitasnya merupakan anugrah dari-Nya?. Hanya manusia yg tak mau memikirkan dg baik bahwa anugrah Allah sangatlah banyak dan bahkan tak mampu dihitung. Ia hanya meminta dan menuntut, namun tak mau koreksi diri dan memikirkan bahwa anugrah Allah yg telah dan terus diberikan kepada-Nya begitu banyak. Dan penyakit ini, jika tak mampu disembuhkan, bisa menyebabkan putus harapan dan pesimis.

استغفر الله العظيم

Tetaplah tersenyum, karena ada rencana Allah yg lebih baik bagimu.... ^_^

الحمدلله رب العلمين

SEMOGA BERMANFAAT DAN BAROKAH

Selasa, 03 September 2013

Washiat al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man Kepada Para Pemuda

ولا تتوزوج الا بعد أن تعلم أنك تقدر على القيام بجميع حوائجها واطلب العلم أولا ثم اجمع المال من الحلال ثم تزوج, فانك ان طلبت المال في وقت التعلم عجزت عن طلب العلم ودعاك المال الى شراء الجواري والغلمان وتشتغل بالدنيا والنساء قبل تحصيل العلم, فيضيع وقتك ويجتمع عليك الولد ويكثر عيالك فتحتاج الى القيام بمصالحهم وتترك العلم.

Janganlah engkau (terburu-terburu) menikah kecuali setelah engkau tau bahwasanya engkau sudah mampu untuk bertanggung jawab memenuhi seluruh kebutuhan-kebutuhan istrimu.

Carilah ilmu terlebih dahulu, kemudian (setelah punya ilmu) kumpulkanlah harta benda dari jalan yang halal lalu menikahlah.

Jika engkau mencari harta benda di tengah-tengah waktumu mencari ilmu, maka engkau akan lemah di dalam mendapatkan ilmu, karena harta benda selalu mengajakmu untuk terus berniaga dengan orang-orang sekitarmu, dan engkau akan tersibukkan dengan urusan dunia juga wanita sebelum engkau benar-benar mendapatkan ilmu.

(Jika itu yang terjadi) maka waktumu akan tersia-siakan, dan engkau akan mempunyai banyak anak, keluargamu akan menjadi semakin banyak juga. Oleh karena itu, maka engkau akan sangat berhajat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dan engkau lalu meninggalkan ilmu.

واشتغل بالعلم في عنفوان شبابك ووقت فراغ قلبك وخاطرك ثم اشتغل بالمال ليجتمع عندك, فان كثرة الولد والعيال يشوش البال, فاذا جمعت المال فتزوج.

Sibukkanlah waktumu dalam mencari ilmu pada masa-masa mudamu, pada waktu hatimu masih senggang dari banyak pikiran, kemudian setelah itu (setelah ilmu berhasil diraih), sibukkanlah dirimu untuk mengumpulkan harta benda, karena sesungguhnya banyaknya anak dan keluarga akan mengganggu pikiran. Dan ketika harta sudah kau raih, maka menikahlah.

*Di nukil dari kitab al-Asybah wa an-Nadzoir li Ibni Najm
piss-ktb.com/2013/02/2228-mencari-ilmu-dahulu-lalu-baru.html

Kamis, 29 Agustus 2013

CINTA DAN MAWADDAH (Dari kajian-kajian Tafsir al-Quran dan beberapa referensi yang relevan)


Cinta merupakan satu kata yang bukan saja menyenangkan tapi juga dibutuhkan, tidak hanya oleh manusia, namun jg oleh smua mahluk hidup.

Cinta adalah anugerah Allah. Cinta adalah sesuatu yang mengantar kepada kebahagiaan. Cinta mudah diucapkan, namun sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Bahkan, sementara pakar mengatakan ia tdk dpt dilukiskan, karena itu hanya gejala-gejalanya saja yg dpt dijelaskan.

Begitu banyak definisi tentang cinta yang dikeluarkan oleh para pakar, namun tidak satupun diantaranya yang bisa menggambarkan cinta itu secara utuh dan menyeluruh. Namun, yang pasti cinta mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang positif. Banyak karya-karya besar manusia yang lahir dari cinta, coba tengok megah nan cantiknya Taj Mahal, lihatlah Candi Borobudur atau Candi Prambanan yang menakjubkan, indahnya syair-syair Homerus, dan masih banyak lainnya yang kesemuanya itu lahir dari cinta.

Manusia terdiri dari jasmani, akal dan rasa. Akal memiliki logika, dan cinta pun memiliki logikanya sendiri. Akal tidak dapat menggabungkan dua hal yang bertolak belakang, tetapi cinta dapat menggabungnya. Bukankah ada sementara orang yang berkata “benci tapi rindu” atau "berharap namun cemas"???. Bagaimana dua hal yang bertentangan ini dapat bertemu kalau bukan rasa yang mempertemukannya.

Jenis cinta ada bermacam-macam. Ada cinta kepada Tuhan, ada cinta kepada harta, ada cinta kepada manusia, dsb. Cinta-cinta itu ada yg cepat perolehannya, namun jg cepat layunya. Ada yg lambat perolehannya, baru terkesan di hati, namun lambat pula pudarnya, bahkan tidak pernah pudar sama sekali, dsb.

Cinta kepada Allah dibuktikan dengan taat dan patuh kepada-Nya. Taat menjalankan perinta-perintah-Nya, patuh menjauhi dan menghindari semua larangan-Nya. Allah mencintai mereka yang muhsinin, orang-orang yang berbuat baik kepada orang yang pernah melakukan kesalahan kepadanya. Allah mencintai orang-orang yang bertakwa, yang sabar, bertaubat, yang bersatu padu, yang mengikuti Nabi Muhammad dan mereka yang berakhlak mulia.

Cinta kepada sesama manusia ada beberapa aspek, seperti cinta kepada pasangan, cinta kepada anak, cinta kepada orang tua, cinta kepada guru dan yang lainnya.

Cinta kepada manusia adl sebuah dialog antar dua aku. Cinta kepada manusia bukanlah melebur siapa yang dicintai kepada diri kita. Cinta kepada manusia harus tetap memelihara kepribadian yang dicintainya, tidak memaksanya menjadi seperti diri kita.

Cinta kepada manusia bermula dari pengenalan kepadanya, kemudian timbul sebuah penghormatan, lalu timbul tanggung jawab dan akhirnya timbul kesetiaan. Tanpa hal-hal tersebut, maka semua itu bukanlah cinta. Bukanlah cinta, mereka yang tidak mengenal orang yang dicintainya, bukanlah cinta bagi mereka yang tidak menghormati siapa yang dicintainya, bukanlah cinta jika dia melecehkan orang yang dicintainya, dan bukanlah cinta mereka yang tidak setia kepada yang dicintainya.

Puncak dari cinta manusia kepada pasangannya oleh al-Qur’an dinamai mawaddah, yaitu kosongnya jiwa dari segala yang buruk. Sehingga betapa pun buruk yang dicintai, hatinya tidak pernah melihat keburukannya itu. Betapa pun buruk perlakuan pasangannya, hati telah kosong dari segala keburukannya sehingga yang buruk pun dilihat menjadi kebaikan. Mawaddah jg disebut cinta plus. Bukankah yg mencintai sesekali hatinya kesal, sehingga cintanya pudar, bahkan putus. Tetapi yg bersemai dalam hati mawaddah, tidak lg akan memutuskan hubungan, seperti yg biasa terjadi pada org yg bercinta. Ini disebabkan karena hatinya begitu lapang dan kosong dari keburukan, shg pintu-pintunya pun telah tertutup untuk dihinggapi keburukan lahir dan batin (yg mungkin datang dari pasangannya). Dan inilah yg harus diperjuangkan bg orang-orang yg menjalin "cinta kasih".

MAKNA SAKINAH, MAWADDAH, WA ROHMAH DAN TALI-TEMALI PEREKAT PERNIKAHAN

1. Sakinah (ﺴﻜﻨﺔ), terambil dari kata sakana yaitu diam, tenang setelah sebelumnya goncang dan sibuk. Dari sini, rumah dinamai maskan karena dia tempat memperoleh ketenangan setelah sebelumnya si penghuni sibuk di luar rumah. Allah mensyari’atkan bagi manusia pernikahan, agar kekacauan pikiran dan gejolak jiwa karena naluri untuk mempertahankan eksistensinya dan pemenuhan kebutuhan untuk selalu dekat dengan pasangannya dapat mereda dan masing-masing memperoleh ketenangan.

2. Mawaddah (مودة), terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf ﻭ (wawu), dan ﺩ (dal) berganda (tasydid), yang mengandung arti cinta dan harapan. Mawaddah adalah kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Dia adalah cinta plus. Bukankah yang mencintai, sesekali hatinya kesal sehingga cintanya pudar bahkan putus. Tetapi yg bersemai dalam hati mawaddah, tidak lg akan memutuskan hubungan, seperti yg biasa terjadi pada org yg bercinta. Ini disebabkan karena hatinya begitu lapang dan kosong dari keburukan, shg pintu-pintunya pun telah tertutup untuk dihinggapi keburukan lahir dan batin (yg mungkin datang dari pasangannya). “Kalau Anda menginginkan kebaikan dan mengutamakannya untuk orang lain, maka Anda telah mencintainya. Tetapi jika Anda menghendaki untuknya kebaikan, serta tidak menghendaki untuknya selain itu – apapun yg terjadi – maka mawaddah telah menghiasi hati Anda.

3. Rohmah (ﺭحمة), makna kata ini mirip dg kata mawaddah. Sementara ulama menjadikan tahap rahmat pd suami-istri lahir bersama lahirnya anak, atau ketika pasangan suami istri itu tlah mencapai usia lanjut. Ini krn rahmat, “tertuju kpd yg dirahmati, sedang yg dirahmati itu dlm keadaan butuh, dan dg demikian rahmat tertuju kpd yg lemah” dan kelemahan dan kebutuhan itu sangat dirasakan di masa tua.

TALI-TEMALI PEREKAT PERNIKAHAN

Cinta, mawaddah, rahmah, dan amanah Allah, itulah tali-temali ruhani perekat pernikahan, sehingga kalau cinta pupus dan mawaddah putus, masih ada rahmat, dan kalau pun ini tidak tersisa, masih ada amanah, dan selama pasangan itu beragama, amanahnya terpelihara, karena Al-Quran memerintahkan.

 وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Pergaulilah istri-istrimu dengan baik, dan apabila kamu tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan tali perkawinan), karena boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, tetapi Allah menjadikan padanya (di balik itu) kebaikan yang banyak. (QS. Al-Nisa’ [4]: 19)

Rabu, 28 Agustus 2013

KEBERPASANGAN ADALAH FITRAH


Keberpasangan adalah fitrah. Oleh karena itu, setiap makhluk pasti mempunyai pasangan. Marilah kita lihat sejenak dalam kehidupan alam semesta ini, semua mempunyai pasangan. Ada jantan, ada betina, ada siang, ada pula malam. Bahkan sesuatu yg dulu belum kita ketahui ternyata mempunyai pasangan, misalnya dalam atom dikenal istilah proton (+) dan elektron (-). Keberpasangan juga merupakan fitrah bagi kita, manusia. Namun, keberpasangan antara alam dan manusia mempunyai perbedaan. Mari kita perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar  lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Syura [42]: 11)

Binatang ternak berpasangan untuk berkembang biak, manusia pun demikian, begitu pesan ayat di atas. Tetapi dalam ayat di atas tidak disebutkan kalimat mawaddah dan rahmah, sebagimana ditegaskan ketika Al-Quran berbicara tentang pernikahan manusia.


“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Al-Rum [30]: 21)

Mengapa demikian? Tidak lain karena manusia diberi tugas oleh-Nya untuk menjadi khalifah di bumi.

Pada dasarnya, manusia tidak senang dengan kesendirian. Ia membutuhkan teman untuk mencurahkan isi hatinya, dengan ngobrol, bercanda, dan menumpahkan isi hatinya kepada orang yang disayanginya. Oleh karena itu, agama mensyariatkan pernikahan agar keberpasangan dapat menjadi ketenangan bagi umat manusia.

SIAPAKAH PASANGAN KITA? – EGALITARIANISME DLM PERNIKAHAN –

Pasangan kita tidak lain adalah suami (istri) kita. Dia bukanlah orang lain, tetapi dia adalah diri kita. Apabila kita menginginkan sesuatu, maka sebelum kita mengucapkan, suami (istri) kita sudah dapat menebaknya dengan tepat apa yang kita inginkan, karena dia adalah diri kita. Begitu pula sebaliknya. Semakin terjadi persesuaian antara suami-istri, maka semakin bahagialah mereka.
Untuk itu dalam memilih pasangan perlu ada kesetaraan, baik itu kesetaraan dalam beragama, kesetaraan dalam konsep hidup, kesetaraan dlm berfikir, dll. Nabi pun menganjurkan “lihatlah wanita itu sebelum kau nikahi”. Nabi mengatakan seperti itu dg maksud melanggengkan pernikahan.
Berkaitan dg kesetaraan dlm pandangan hidup dan kesetaraan dlm beragama, maka tidak dianjurkan menikah antar agama. Larangan ini dilatarbelakangi oleh keinginan menciptakan “sakinah” dalam keluarga yg merupakan tujuan pernikahan. Perkawinan baru akan langgeng dan tentram kalau ada persamaan antara suami-istri. Jangankan perbedaan agama, perbedaan budaya atau bahkan perbedaan pendidikan pun tidak jarang menimbulkan kesalahpahaman dan berakibat kegagalan dalam mencapai tujuan mahligai pernikahan.


PERBEDAAN DALAM PERSAMAAN

Berpasangan itu harus ada bedanya. Misalnya sepatu kanan harus berbeda dengan sepatu kiri agar bisa digunakan. Tajam dan kuatnya jarum harus diimbangi dengan lemahnya kain agar dapat digunakan menjadi baju. Seandainya tajam dan kuatnya jarum itu tidak diimbangi dg lemahnya kain, tapi dg kerasnya kain seperti tembok, maka kita tidak dapat membuat baju.
Apakah lemahnya kain, menandakan rendahnya derajat kain? Tidak. Itu merupkn fenomena kesetaraan, karena kuatnya jarum kalau ia sendirian, tanpa kain, maka tidak akan terbentuk baju. Karena itu, manusia yg sendirian maka banyak sesuatu yg belum optimal atau terwujud.
Keberpasangan sesungguhnya adalah menyatukan jiwa, pikiran, perasaan dan jasmani kepada suami (istri) kita.

SEMOGA KITA BERHASIL...

Jumat, 26 Juli 2013

INTROSPEKSI


Mereka yang suka melakukan kesalahan dan terjerumus ke dalam dosa, jngan dikira tidak pernah rindu kepada kebaikan. Mereka pun adalah manusia sepertimu yang mempunyai rasa rindu. Dan aku yakin bahwa mereka terkadang menyadari bhw kehidupannya telah salah, dan hatinya sangat berkeinginan untuk mereguk nikmatnya hidup secara baik, dalam lingkungan baik, dan berakhir dengan baik.....

Maka, jangan pernah berbuat kasar kepada mereka. Bersikap lembutlah. Karena betapapun putihnya dirimu, engkau bukanlah tuhan. Dan betapapun buruk mereka, mereka tetap mempunyai kesempatan untuk bertaubat...

Surga bukan hanya untukmu!!!!!!!!!




Rabu, 24 Juli 2013

Membaca surat al-ikhlas dan sholawat di sela-sela sholat tarawih, bolehkah?



هل يجوز قراءة {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} بين كل أربع ركعات، والصلاة على النبي صلى الله عليه وآله وسلم بين كل ركعتين في صلاة التراويح أم لا.


Ketika pelaksanaan shalat Tarawih, apakah boleh membaca surat al-Ikhlâsh setiap selesai dari empat rakaat dan membaca shalawat kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam setiap selesai dari dua rakaat?

الجواب: امانة الفتوى
Jawaban: Dewan fatwa
 


جاء الشرع الشريف بالأمر بقراءة القرآن الكريم على جهة الإطلاق من غير تقييد بوقت دون وقت أو حال دون حال إلا ما استُثنِي من ذلك كحال الجنابة مثلًا، وقد نبَّه النبي صلى الله عليه وآله وسلم على عظيم فضل سورة الإخلاص واستحباب قراءتها ليلًا بقوله لأصحابه رضي الله عنهم: ((أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالُوا: وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ)) رواه مسلم عن أبي الدرداء والبخاري بنحوه عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنهما، وعن عائشة رضي الله عنها: ((أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وآله وسلم بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ، وَكَانَ يَقْرَأُ لأَصْحَابِهِ فِي صَلاتِهِ فَيَخْتِمُ بِـ{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}، فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وآله وسلم، فَقَالَ: سَلُوهُ لأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ فسألوه، فَقَالَ: لأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وآله وسلم: أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ)). متفق عليه.

Syariat Islam yang agung menyebutkan perintah membaca Alquran secara mutlak tanpa dibatasi dengan waktu atau kondisi tertentu, kecuali beberapa kondisi yang telah ditetapkan sebagai pegecualian, seperti dalam keadaan junub. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam pun menjelaskan tentang besarnya keutamaan surat al-Ikhlâsh dan anjuran untuk membacanya pada malam hari. Beliau bersabda kepada para sahabat,


أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؟ قَالُوْا: وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؟ قَالَ: ﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

    "Apakah seseorang diantara kalian tidak mampu membaca sepertiga Alquran pada setiap malam?" Para sahabat bertanya, "Bagaimanakah seseorang dapat membaca sepertiga Alquran [dalam satu malam]?" Beliau pun menjawab, "Qul Huwallahu Ahad (surat al-Ikhlâsh) adalah sebanding dengan sepertiga Alquran." (HR. Muslim dari Abu Darda` Rodhiyallahu ‘anhu. Bukhari juga meriwayatkan hadits yang serupa dari Abu Said al-Khudri Rodhiyallahu ‘anhu).

    Diriwayatkan juga dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha bahwa pada suatu ketika, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam mengangkat seorang lelaki untuk memimpin sebuah pasukan kecil. Ketika menjalankan tugasnya, orang tersebut selalu membaca surat al-Ikhlâsh di setiap akhir bacaannya di saat menjadi imam shalat bagi pasukannya. Setelah kembali ke Madinah pasukan tersebut melaporkan apa yang dilakukan pimpinan mereka itu kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam., maka beliau bersabda, "Tanyakanlah padanya mengapa ia melakukan hal itu?" Mereka pun menanyakan hal itu kepadanya, lalu ia menjawab, "Karena surat itu berisi tentang sifat Sang Maha Pengasih dan saya suka untuk membacanya." Maka Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam pun bersabda, "Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah juga suka terhadapnya." (Muttafaq alaih).


    كما أن الصلاة والسلام على النبي صلى الله عليه وآله وسلم من أفضل الأعمال قبولا عند الله تعالى، كما أنها تفتح للأعمال أبواب القبول فهي مقبولة أبدًا، وكما أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم هو شفيع الخلق فالصلاة عليه شفيع الأعمال، وقد أمر الله تعالى بها أمرًا مطلقًا في قوله سبحانه وتعالى: {إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} [الأحزاب: 56]، والأمر المطلق يقتضي عموم الأمكنة والأزمنة والأشخاص والأحوال، فمن ادعى -بلا دليل- أنها مُحَرَّمةٌ في وقت من الأوقات فقد ضيَّق ما وسَّعه الله تعالى؛ لأنه قيَّد المطلَق وخصَّص العامَّ بلا دليل، وهذا في نفسه نوع من أنواع البدعة المذمومة.

    وعليه فقراءة {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} والصلاة على النبي صلى الله عليه وآله وسلم في صلاة التراويح أمر جائز ومشروع لا حرج فيه.
    والله سبحانه وتعالى أعلم
 
    Adapun shalawat kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam, maka ia merupakan salah satu amalan yang paling mudah diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Selain itu, bacaan shalawat juga membuat amalan-amalan seorang hamba dapat diterima oleh Allah, karena shalawat merupakan perbuatan yang pasti diterima oleh-Nya. Dan sebagaimana Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam merupakan pemberi syafaat kepada para makhluk, shalawat kepada beliau juga merupakan pemberi syafaat (pertolongan) bagi amalan-amalan manusia.

    Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bershalawat kepada Nabi-Nya dengan perintah yang bersifat mutlak, yaitu di dalam firman-Nya,

    "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzâb: 56).

    Kemutlakan sebuah perintah menuntut adanya kemutlakan (keumuman) tempat, waktu, person dan keadaan. Maka barang siapa yang mengklaim –tanpa disertai dalil— bahwa shalawat dilarang diucapkan dalam waktu-waktu tertentu maka ia telah menyempitkan apa yang dilapangkan oleh Allah. Hal itu berarti orang tersebut telah membatasi sesuatu yang bersifat mutlak dan mengkhususkan sesuatu yang bersifat umum tanpa disertai dalil. Tindakan seperti ini merupakan salah bentuk perbuatan bid'ah yang tercela.

    Dengan demikian, membaca surat al-Ikhlâsh dan shalawat kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam ketika pelaksanaan shalat Tarawih merupakan perbuatan yang dibolehkan dan tidak ada larangan baginya.

    Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.