Minggu, 14 Juli 2013

TERSENYUMLAH DAN BERSABARLAH

 بسم الله الرحمن الرحيم

Bergaul dg manusia, memang tidak seindah mimpi tentang serombongan orang yg pergi bersama-sama, makan bersama, saling menolong, saling mengasihi dan saling bercerita yang menyenangkan. Bergaul di antara sesama manusia memang bisa saja menyenangkan, namun adakalanya menjengkelkan (menurut sementara orang).

Terkadang apa yg kita kehendaki tidak sama dg yg dikehendaki orang lain. Demikian pula sebaliknya. Sering pula orang mengoreksi kita, atau jg mencela dan mengungkit-ngungkit keslahan kita, atau bahkan membuat kita jengkel atau marah. Menghadapi hal seperti ini hendaklah hamba Allah yg saleh dan mukhlis, tidak menyesali diri atau menyalahkan orang lain. Hendaklah ia kembalikan segala-galanya kepada Allah dengan memohon pertolongan kepada-Nya agar terlepas dari marabahaya yg datang dari manusia ataupun datang dari diri kita sendiri.

Dalam pergaulan memang diperlukan jiwa besar, namun tidak angkuh. Tabah, namun tidak menyalahkan. Tegar, namun tetap waspada. Mengoreksi diri sangat penting, agar mengetahui kelemahan kita sendiri, dan berusaha memperbaiki, serta menambah kebaikan. Manusia terkadang tidak mampu melihat aib dirinya sendiri, namun justru lebih pandai melihat aib orang lain.

Berusaha memperbaiki diri serta menghidupkan kembali perasaan dan sikap beragama dalam diri  adalah obat yang sangat mujarab dalam pergaulan. Sesudah itu disembuhkan sendiri sakit dan pedih itu dg tawakal kpd Allah, lalu dipulihkan dg ridho menerima semua yg datang dari Allah.

Allah Subhanahu wa ta'ala tidak membiarkan para hamba yg ahli ibadah tertekan oleh perbuatan orang yg dzalim. Allah subhanahu wa ta'ala hanya ingin mengetahui betapa besar kesabaran dan ketabahan yang dimiliki oleh hamba-hamba-Nya. Apalagi suatu kesalahan atau kepedihan yang dialami termasuk perbuatan yang datang dari diri hamba itu sendiri.

Semua yg diderita manusia, bukan karena Allah membenci hamba-Nya, akan tetapi Allah ingin agar hamba-hamba-Nya mengetahui kelemahan dirinya sendiri dan mengetahui keagungan serta kehebatan Allah subhanahu wa ta'ala.

Syekh Ibnu 'Athoillah berkata:

انما اجرى الاذى على ايديهم كيلا تكون ساكنا اليهم اراد ان يز عجك عن كل شيء حتى لا يشغلك عنه بشيء

"Allah memang sengaja mendatangkan gangguan untukmu dari manusia, agar kamu tidak merasa tentram karena gangguan itu.  Allah ta'ala memang menghendaki agar kamu gelisah, agar kamu selalu ingat kepada Allah, karena kegelisahan itu".

Banyak yang menyakitkan manusia di dunia ini. Allah Subhanahu wa ta'ala Maha Tahu semua peristiwa yg menimpa manusia. Ada fitnah, ada kekejaman, ada musibah, ada kebakaran, ada sakit, caci-maki, kebencian, dan lain-lain. Kalian disibukkan dg gangguan-gangguan itu, terutama sekali kalau kalian sangat terikat dg manusia. Kalian mjdikan manusia sbg tumpuan harapan. Kalian lebih banyak bersandar kpd manusia daripada kepada Allah Robbul Izzati.

Kadang-kadang kalian tdk sadar, dekatmu dg manusia, terikatmu dg manusia sudah mengganggu perilakumu sendiri. Manusia bisa jujur dan ikhlas, bisa juga munafik dan bahkan bisa jg membawa fitnah. Kalau engkau tidak terjaga oleh ibadah dan pertolongan Allah, pasti engkau mudah terjerumus dalam godaan dan fitnah manusia.

Perhatikanlah:

"Sesungguhnya apabila ada musuh yg dapat mendekatkan dirimu kpd Allah, lebih baik daripada sahabat yg memutuskan dirimu dari Allah. Ingatlah, bahwa bahaya yg menimpa jasmanimu lebih ringan daripada yg menimpa hatimu".

NUR (CAHAYA) ATAU BASYAR (MANUSIA BIASA)?

هل النبي صلى الله عليه وسلم نور، أم هو بشر مثلنا كما أخبر القرآن ؟
 Apakah Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam merupakan Nur (cahaya), ataukah basyar (manusia) seperti kita sebagaimana diberitakan al-Quran?



النبي صلى الله عليه وسلم نور هذا صحيح قال تعالى : { يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ} ، وقال تعالى: {وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا} ، فهو صلى الله عليه وسلم نور ومنير، ولا شيء في أن تقول إن سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم كان نورًا طالما أن الله عز وجل قد وصفه بذلك وسماه نورًا، ولقد ثبت في السنة أن الصحابة رضى الله عنهم كانوا يقولون : إنه وجهه صلى الله عليه وسلم كالقمر(رواه النسائي ، والطبراني ، وذكر ذلك أيضا الحافظ ابن حجر في الإصابة)، وقد أخبر صلى الله عليه وسلم أنه عندما حملت فيه أمه: «رأت نورًا أضاء لها قصور بصرى من أرض الشام »( رواه الطبري في تاريخه، وابن هشام في السيرة النبوية ، وصاحب حلية الأولياء)، وقد أخبر أصحابه رضوان الله عليهم أن : «النبي صلى الله عليه وسلم عندما دخل المدينة أضاء منها كل شيء، وعندما مات أظلم منها كل شيء»( رواه أحمد ، والترمذي ، وابن ماجه ، وابن حبان) إلى غير ذلك من آثار وأحاديث تبين أنه صلى الله عليه وسلم كان نورًا، ولا ينبغي أن ننفي أن ذلك النور كان حسياً، فليس هناك ما يتعارض مع كونه كان منيرًا، وأنه صلى الله عليه وسلم له نور حسي مع أصل العقيدة، كما أنه لا يعارض طبيعته البشرية التي أخبر بها القرآن.إن المحظور هو نفي البشرية عنه صلى الله عليه وسلم ؛ لأن هذا مخالف لصحيح القرآن فقد قال الله تعالى: { قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ } ، فالسلامة في ذلك أن تثبت كل ما أثبت الله لنبيه صلى الله عليه وسلم فتثبت أنه صلى الله عليه وسلم كان نورًا ومنيرًا ولا يزال، وأنه بشر مثلنا، دون تفصيل وتنظير.، وإثبات النور الحسي له صلى الله عليه وسلم لا يتعارض مع كونه بشرًا، فالقمر طبيعته صخرية، ومع ذلك هو نور وله نور حسي، والنبي صلى الله عليه وسلم خير من القمر، وخير من خلق الله كلهم، نسأل الله أن يهدينا الطريق المستقيم، فهذا بيان لقضية نورانية النبي صلى الله عليه وسلم. وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين، والله تعالى أعلى وأعلم.


Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam adalah Nur, ini benar. Allah berfirman:

 يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ


Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yg kamu sembunyikan, & banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu Nur (cahaya) dari Allah dan Kitab yg menerangkan.


وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا


dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi siroojan Muniiroo (cahaya yang menerangi).


Maka maksudnya adalah beliau shollallahu 'alaihi wa sallam Nur (cahaya) dan muniir (yang menerangi).


Dan tidak apa-apa jika engkau mengucapkan bahwa sayyidina Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam adalah nur, sepanjang bahwasanya Allah 'Azza wa Jalla mensifati beliau dengan sifat itu dan Dia menyebutnya Nur.


Dan sungguh kuat dalam riwayat Hadis bahwasanya para shohabat Rodhiyallahu 'anhum mengatakan: Sesungguhnya wajah beliau shollallahu 'alaihi wa sallam seperti rembulan. (HR. Nasa'i, Thobroni, dan juga al-Hafidz ibn Hajar menuturkan pula dalam kitab al-Ishobah).


Selain itu, masih banyak hadith dan atsar (pendapat Sahabat rodhiyallahu 'anhum) yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad -shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah cahaya. Dan tidak sepatutnya kita menafikan bahwa cahaya tersebut adalah dalam bentuk fizikal karena tidak ada yang bertentangan pada kenyataan bahwa Baginda -shollallahu ‘alaihi wasallam- bersifat menerangi dan mempunyai cahaya yang berbentuk material (kebendaan) itu dengan prinsip dasar akidah.


Sebagaimana hal itu tidak bertentangan dengan tabiat kemanusiaannya yang dinyatakan di dalam Al-Quran.


Perkara yang dilarang adalah menafikan kemanusiaan dari diri Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam- karena menyalahi keterangan yang jelas di dalam Al-Quran. Allah Subhanahau wa Ta'ala berfirman:


قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ


“Katakanlah (hai Muhammad): Sesungguhnya aku manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku…


Maka jalan selamat dalam masalah tersebut adalah kita menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala pada diri Nabi-Nya, Nabi Muhammad -shollallahu ‘alaihi wasallam-. Dengan demikian, kita menetapkan bahwa Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah cahaya dan menerangi, senantiasa demikian, dan bahwa Baginda -shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah manusia tanpa memperincikan dan membuat penilaian yg rendah dan sama dgn manusia lainnya.


Dan menetapkan cahaya fizikal bagi Nabi Muhammad -shollallahu ‘alaihi wasallam- itu tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa Baginda -shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah manusia. Rembulan misalnya, tabiat sebenarnya adalah bebatuan dan bersama itu ia juga mempunyai cahaya fizikal. Dan Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam- lebih baik dari bulan dan lebih baik dari seluruh makhluk Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Kami memohon Allah,kiranya Ia menunjukkan kita jalan yang lurus. Maka, inilah penjelasan mengenai qodhiyah nuroniyah Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam.


Wa aakhiru da'wanaa anil hamdulillaahi robbil 'aalamiin.


Wallahu Ta'aalaa a'laa wa a'lam.


Sumber:

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=638808116147100&set=a.332018776826037.91920.300263833334865&type=1&relevant_count=1

Rabu, 10 Juli 2013

Allah merahasiakan enam perkara di dalam enam perkara lainnya

Ada sebuah maqolah yang diriwayatkan dari Sayyidina Umar Rodhiyallahu 'anhu, bahwa ia berkata sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah merahasiakan enam perkara di dalam enam perkara lainnya, yaitu:
(1) Merahasiakan ridho-Nya dalam perbuatan taat;
(2) Merahasiakan murka-Nya dalam perbuatan maksiat;
(3) Merahasiakan Lailatul Qodar dalam bulan Ramadhan;
(4) Merahasiakan wali-wali-Nya di tengah-tengah manusia;
(5) Merahasiakan kematian di sepanjang umur; dan
(6) Merahasiakan sholat wustho di dalam sholat lima waktu.

Komentar Syekh Nawawi Banten: Menurut Sayyidina Umar Rodhiyallahu 'anhu bahwa ada enam perkara Allah yang dirahasiakan-Nya (dari makhluk-Nya) di dalam enam perkara lainnya, yaitu sebagai berikut:

(1) Keridhoan Allah di dalam ketaatan, maksudnya agar manusia bersungguh-sungguh dalam berbuat ketaatan dengan harapan dapat menemukannya. Kita tidak boleh menghina ketaatan, meskipun sangat kecil karena bisa jadi keridhoan Allah berada di dalamnya.

(2) Kemurkaan-Nya di dalam kemaksiatan, maksudnya agar manusia menjauhi maksiat. Kita tidak boleh meremehkan perbuatan maksiat, meskipun sangat kecil,karena di dalmnya terdapat kemurkaan Allah.

(3) Lailatul Qodar berada pada bulan Ramadhan, maksudnya agar manusia bersungguh-sungguh menghidupkan bulan Ramadhan dengan cara memperbanyak ibadah, karena pahala sunnah pada bulan Ramadhan ini bagaikan pahala fardhu pada bulan yang lainnya. Hal itu sebgaimana yg diterangkan dalam sebuah Hadis, bahwa ibadah sunnah yang dikerjakan bertepatan dengan malam lailatul qodar, nilainya sama dengan ibadah fardhu.
Bahkan an-Nakho'i juga mengatakan:
"Satu rokaat sholat dalam Lailatul Qodar itu lebih utama daripada seribu rokaat di luar Lailatul Qodar dan sekali membaca tasbih di dalamnya itu lebih utama, daripada seribu kali membacanya di luar malam itu (Lailatul Qodar)."
Dalam menghidupkan semua malam bulan Romadhon, hendaklah agar bersungguh-sungguh agar mendapatkan malam Lailatul Qodar, karena Lailatul Qodar itu lebih baik daripada seribu bulan, yaitu 83 tahun 4 bulan.
Dalam sebuah hadis marfu' yang diriwayatkan oleh Imam Thobrani telah diterangkan, bahwa Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda sebagai berikut:

من زنا فيه او شرب خمرا لعنه الله ومن في السموات إلى مثله من الحول الثاني

Barangsiapa berzina atau minum khomr di bulan Ramadhan, maka ia dilaknat oleh Allah dan malaikat yang ada di langit, samapai datang tanggal (hari) yang sama di tahun depan.

Jadi,orang yang berbuat maksiat di bulan Ramadhan, kemudian mati sebelum menjumpai Ramadhan berikutnya, maka ia tidak mempunyai kebajikan di sisi Allah yang dapat menjaga dirinya dari jilatan api neraka. Oleh sebab itu, bertaqwalah kepada Allah terutama di bulan Ramadhan ini setiap kebaikan dilipatgandakan. Begitu juga dengan kejelekan yang diperbuat di dalamnya.

(4) Para kekasih Allah (Waliyullah) disisipkan di tengah-tengah manusia, maksudnya agar manusia tidak menghina seorang pun dari para kekasih Allah, kecuali memohon doa dengan harapan dapat bertemu Waliyullah. Oleh sebab itu, seseorang jangan samapai menghina orang lain, karena siapa tahu dia adalah waliyullah.

(5) Ajal kematian disisipkan sepanjang usia, maka hendaklah di setiap denyut jantung selalu digunakan untuk mengumpulkan bekal di hari kematian nanti dengan cara memperbanyak ibadah, karena siapa tahu kematian datang tiba-tiba.

(6) Sholat wustho yaitu sholat yg paling istimewa dan paling utama, dirahasiakan oleh Allah dalam sholat fardhu lima waktu, maksudnya agar manusia mencarinya dalam setiap sholat.

Di samping itu, Allah juga menyembunyikan nama-Nya yang agung, agar manusia bersungguh-sungguh dalam menyebutnya sehingga dapat dikabulkan. Allah juga merahasiakan waktu yang mustajabah (terkabulnya setiap doa) pada hari jum'at dan Allah merahasiakan ayat Sab'ul Matsani, agar manusia bersungguh-sunggguh dalam membaca al-Quran

Disarikan dari Kitab Nashoihul 'Ibad

Selasa, 09 Juli 2013

8 perkara kebaikan tiada berarti tanpa disertai 8 kebaikan yang lain

Syekh Nawawi Banten menguraikan maqolah dari Sayyidina 'Ali karromallahu wajhah, mengenai 8 perkara kebaikan yang tiada berarti jika tanpa disertai 8 perkara yang lain, yaitu:

(1) Tiada kebaikan dalam sholat, tanpa disertai kekhusyukan
(2) Tiada kebaikan berpuasa, tanpa disertai menahan pembicaraan yang tiada bermanfaat
(3) Tiada kebaikan membaca al-Quran, tanpa disertai menghayati kandungannya
(4) Tiada kebaikan dalam ilmu, tanpa disertai wira'i
(5) Tiada kebaikan dalam harta benda, tanpa disertai kedermawanan
(6) Tiada kebaikan dalam persahabatan, tanpa disertai saling menjaga (dari keburukan)
(7) Tiada kebaikan dalam kenikmatan, tanpa disertai keabadian
(8) Tiada kebaikan dalam doa, tanpa disertai dengan keikhlasan.

Mudah-mudahan bermanfaat dan semoga kebaikan yang kita lakukan bernilai dan berarti.

Semoga kita berhasil.

LAKUKAN SUNNAH, NISCAYA ADA KEAJAIBAN


Riwayat dari asy-Syekh Prof. Dr. 'Ali Jum'ah Muhammad tentang asy-Syekh Muhammad Amin al-Baghdady

Syekh Muhammad Amin al-Baghdady berjalan menuju Masjid yg beliau senantiasa sholat dan mengajar di sana, yg disebut Masjid Dhohir Jasankir. Dalam perjalanan itu beliau bertemu dengan seorang yg dalam keadaan mabuk. Orang ini meminta kepada beliau sesuatu. "Berikan padaku sesuatu?"Lelaki ini seorang terhormat, namun mabuk hingga tak sadar diri, menjadikan seolah-olah dia meminta-minta dan mohon sedekah kepada beliau. Maka Syeikh mengeluarkan uang sebesar 10 Qirs dan beliau berikan kepada orang itu.

Seorang murid yg ikut berjalan bersama beliau, mengatakan:"Orang ini sedang mabuk, ya Sayyidana! Kenapa Anda beri dia uang, nanti dia belikan minuman buat mabuk lagi".

Beliau jawab:"Kita berdoa kepada Allah supaya dia dapat hidayah. Akan tetapi, Nabi kita Shollallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita untuk memberi sedekah kepada orang yg meminta, meskipun ia datang dengan naik kuda. Orang ini, aku tidak tahu-menahu apakah ia mabuk atau tidak. Aku hanya ingin melaksanakan sunnah Rasulullah Shollalahu 'alaihi wa sallam, karena ia meminta kepadaku dan aku punya uang. Maka ku berikan itu".

Mengejutkan!!! Setelah beberapa hari,,,,,,,,,,,,,,,,,

Laki-laki ini datang ke Masjid, dan mencari Syeikh yg ditemuinya di kawasan itu. "Dimana Syekh itu? Aku harus berjumpa dengannya".Dia masuk masjid, mencium tangan Syekh, lantas menangis. "Ada apa ini?", tanya Syekh.Dia berkata,"Yaa Sayyidana, uang yg Anda berikan kepadaku, ku gunakan untuk membeli arak. Ketika aku meminumnya, aku muntah. Kemudian,uang sisanya ku belikan arak lagi, tapi aku muntah lagi. Pada kali ketiga, ku belikan arak lagi, tapi muntah lagi. Hingga akhirnya aku muak dengan arak, dan aku bertaubat kepada Allah. Aku tidak mau lagi meminum barang najis itu lagi. Aku kembali kepada Allah, sholat,berpuasa, dan aku akan mendampingi Anda".

Sumber:

http://www.youtube.com/watch?v=p7bwXrOOSc0

Sabtu, 06 Juli 2013

WAQTIS SAHR


وَقْتِ السَّحَرْ بِهْ يَطِيْب الْحَالْ لاَهْلِ الصَّفَا وَبِهْ يَجُوْدُ الْعَلِي بِالْفَضْلِ لأَهْلِ الْوَفَا

Waktu larut malam adalah saat termuliakannya keadaan orang orang suci, dan pada waktu itu pula semakin pemurah Sang Maha Mulia dengan anugerah untuk mereka yg menepati janji untuk mengunjungi Nya (shalat malam), 

كَمْ مِنْ سَقِيْمٍ بِهَذَا الْوَقْتِ نَالَ الشِّفَا وَكَمْ بِهِ اِتَّصَلْ مِنْ عَبْدٍ بِالْمُصْطَفَى

Berapa banyak orang orang yg dimurkai dan ditimpa musibah yg diwaktu larut malam itu (mereka bermunajat pada Nya) maka mereka mendapatkan kesejukan dan pencabutan atas musibahnya, dan berapa banyak banyak pula para hamba yg termuliakan dengan terhubung hatinya dengan sang Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam, 
    
وَقَابَلَتْهُ الْمَوِاهِبْ ظَاهِرًا وَالْخَفَا وَنَازَلَتْهُ لَطَائِفْ خَيْرِ مَنْ لَطَفَا

Maka ia disambut dengan anugerah anugerah yg terlihat dan yg tersembunyi (permasalahan dunia dan akhiratnya), dan turunlah untuknya kasih sayang dan kelembutan kelembutan dari yg sangat Indah kelembutan Nya. 

عَنِ الْمَسَاوِي وَكُلِّ الذَّنْبِ فَضْلاً عَفَى وَبَارِقِ الْفَضْلِ وَاْلإِ حْسَانِ لُهْ رَفْرَفَا

dari kehinaan kehinaan dan setiap dosa, anugerah maaf Nya pun melimpah, dan pijaran cahaya kemuliaan dan keluhuran untuknya terus bercahaya indah, 

وَحَسْبُهُ جُوْدُ مَوْلاَنَا الْعَلِي وَكَفَى وَهَاهُنَا الْقَوْلَ يَا أهْلَ الْفَهُمْ قَدْ وَقَفَا

Maka cukuplah kedermawanan Tuhan kita Yang Maha Tinggi dan Maha Mencukupi segenap hamba Nya, dan sampai disinilah wahai yang memahami, terhenti ucapan dan kata kata.. 

مَنْ ذَايُعَبِّرْ عَنِ الْغَوْثِ إِذَا وَكَفَا ياَرَبِّ زِدْنَا عَطَايَا يَارَبِّ زِدْ تُحَفَا

Siapakah pula yg mampu menggambarkan kemegahan curahan hujan rahmat Nya bila sedang melimpah.., wahai Tuhan tambahkan bagi kami pemberian pemberian, wahai Tuhan kami tambahkanlah sesuatu yg berharga, 

وَاعْطِفْ عَلَيْنَا فَإِنَّكَ خَيْرَ مَنْ عَطَفَا وَاعْلِي لَنَا فِي رِحَابِ الْعِزّ ِبِكْ غُرَفَا

Maka berlemah lembutlah pada kami, sungguh engkau sebaik baik yg berlemah lembut, dan limpahkanlah kemuliaan bagi kami dengan sambutan kemegahan kamar kamar istana Mu, 

وَصَلِّ دَأْبًا عَلَى أحْمَدُ وَالِهَ الشُّرَفَا وَالصَّحْبِ أَهْلِ الْهُدَى وَمَنْ بِهِمْ إِقْتَفَا

Dan limpahkanlah shalawat selalu atas Nabi Muhammad shollallahu 'alahi wa sallam dan keluarganya yg mulia, beserta para sahabatnya dan para pembawa petunjuk dan semua yg mengikuti jejak mereka, 

وَالْحَمْدُ اللهِ رَبِّي حَسْبُنَا وَكَفَى
Dan segala puji bagi Allah Tuhanku, Yang Maha Melindungi kami dengan kecukupan.

Kamis, 04 Juli 2013

Rindu Rasulullah Shollallahu 'Alaihi wa Sallam



Setiap kali makan, ada rasa yang membuatku hanyut
"Apakah engkau makan sepertiku?"
Padahal, aku mendengar bahwa engkau tidak pernah makan hingga kenyang...

Setiap kali ada yang menyakitiku
Aku pun ingat bahwa engkau pun pernah disakiti melebihi sakitku, tapi engkau selalu memaafkannya

Setiap kali ada yang menghinaku
Maka, aku teringat akhlakmu yang justru mendoakannya

Setiap kali ada yang membuatku terluka
Aku pun ingat bahwa aku tidak boleh membalas luka kepadanya

Setiap kali aku berjalan
Rasanya malu, jika aku berjalan hanya untuk mencari-cari kesalahan orang lain

Bertemu denganmu adalah obat rinduku
Mengenalimu adalah keberuntungan bagiku

اللهم صل على سيدنا محمدالنبي الامي و على اله وصحبه وسلم