Selasa, 12 November 2013

Kenapa Disebut 'Asyuro?

Kenapa disebut 'Asyuro?
Para Ulama berbeda pendapat.
Sebagian mengatakan: Dinamakan 'Asyuro karena ia adalah hari ke-10 di bulan Muharram.
Sebagian lagi ada yg berpendapat: Karena Allah memuliakan 10 Nabi di hari itu dengan 10 kemuliaan, yaitu:
(1) Allah menerima taubat Nabi Adam
(2) Allah mengangkat Nabi Idris ke tempat yang luhur (Makaanan 'Aliya)
(3) Berlabuhnya kapal Nabi Nuh di bukit Judiy
(4) Nabi Ibrahim dilahirkan, diambil, dan diselamatkan dari api
(5) Allah menerima taubat Nabi Dawud
(6) Allah mengangkat Nabi Isa
(7) Allah menyelamatkan Nabi Musa dari Laut dan menenggelamkan Fir'aun
(8) Keluarnya Nabi Yunus dari perut Ikan Hut
(9) Kembalinya kekuasaan Nabi Sulaiman
(10) Rasulullah shollalahu 'alaihi wa sallam dilahirkan
Dan sebagian lagi ada yang berpendapat:
Karena ke-10 dari 10 kemuliaan, Allah memuliakan umat Islam, yaitu:
(1) Bulan Rajab adalah bulan Allah al-Ashom (yg tuli krena tak ada perang). Dan Allah menjadikan kemuliaan ini hanya bagi umat Islam, dan keutamaanya melebihi bulan-bulan laib sebagaimana keutamaan umat ini melebihi seluruh umat.
(2) Bulan Sya'ban yang keutamaanya melebihi bulan-bulan lain sebagaimana keutamaan Kanjeng Nabi Shollalalahu 'alaihi wa sallam melebihi para Nabi.
(3) Bulan Ramadhan yang keutamaannya melebihi bulan-bulan lain sebagaimana keutamaan Allah melebihi para makhluk-Nya.
(4) Lailatul Qodar yang lebih baik dari seribu bulan.
(5) Hari raya Idul Fithri yang merupakan hari pembalasan.
(6) Hari-hari 10 Dzulhijjah yang merupakan Hari-hari mengingat Allah Ta'ala.
(7) Hari 'Arofah yang puasanya melebur dosa dua tahun.
(8) Hari Nahr yang merupakan Hari raya Qurban.
(9) Hari Jum'at yang merupakan Sayyidul ayyam (Penghulu Hari).
(10) Hari 'Asyura yang puasanya melebur dosa setahun.
Maka untuk setiapa waktu dari waktu-waktu ini adalah kemuliaan. Allah menjadikannya untuk Umat ini untuk menghapus dosa-dosanya dan membersihkan kesalahan-kesalahannya.

Disarikan dari Kitab Tanbihul Ghafilin hal. 180
Penerbit: Darul Kitab al-'Arobi, Beirut - Lebanon

Qatar, 12 Nopember 2013

Kamis, 31 Oktober 2013

RAHASIA KEAGUNGAN SHOLAWAT




Pada suatu ketika, di musim haji, Sufyan ats-Tsauri tengah melaksanakan thawaf di Baitullah. Ketika itu Sufyan melihat seorang lelaki yang selalu membaca shalawat setiap ia melangkahkan kaki. Sufyan lalu menghampiri laki-laki tersebut dan menegurnya, "Wah, kalau begini Anda telah meninggalkan bacaan tasbih dan tahlil. Anda hanya terfokus pada shalawat untuk Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam saja. Apa alasan Anda melakukan amalan ini?"

Laki-laki itu kemudian balik bertanya kepada Sufyan, "Siapakah Anda ini? Semoga Allah memberikan Anda karunia kesehatan dan keselamatan!" Sufyan menjawab, "Aku Sufyan ats-Tsauri." Laki-laki itu berkata, "Baiklah, akan saya ceritakan kisah saya. Andaikata tidak karena Anda adalah orang luar biasa dimasa ini, niscaya saya tidak akan menceritakan karunia yang dianugerahkan kepada saya dan niscaya saya tidak akan membuka rahasia yang diberikan Allah pada saya."

Kemudian laki-laki itu berkisah, "Pada suatu hari, saya dan ayahku pergi untuk menunaikan ibadah haji. Di tengah perjalanan, ayahku mengalami sakit, maka saya berhenti dulu untuk mengobatinya. Lalu disuatu malam yang memilukan, ayahku meninggal dunia dengan wajah yang menghitam legam. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, ayahku telah meninggal dengan wajah yang menghitam, ujarku dalam hati. Saya merasa sangat sedih sekali menyaksikan keadaannya.

Lalu saya mengambil selembar kain dan menutupi wajahnya. Saya begitu larut dalam kesedihan dan terus memikirkan, apa yang akan dikatakan orang-orang jika melihat wajah ayahku yang hitam legam. Dalam keadaan seperti itu, saya diserang kantuk dan jatuh tertidur. Tiba-tiba saya bermimpi melihat seorang laki-laki yang sangat tampan, belum pernah saya melihat laki-laki setampan itu, seumur hidupku. Pakaiannya begitu bersih dan dari tubuhnya tercium aroma yang sangat harum, bukan seperti wewangian biasa. Kemudian laki-laki itu melangkah menuju jasad ayahku dan membuka kain penutup wajahnya. Lalu laki-laki itu mengusapkan telapak tangannya ke wajah ayahku. Maka tiba-tiba saja wajah ayah saya menjadi putih bersinar-sinar.

Ketika laki-laki itu hendak beranjak pergi, saya memegang bajunya dan bertanya, 'Wahai hamba Allah, siapakah Anda, yang telah dikaruniai Allah untuk menyelamatkan ayahku dan melenyapkan kegundahan di hatiku?' Laki-laki itu lalu menjawab, "Tidakkah kamu mengenalku? Aku adalah Muhammad bin Abdullah, yang mendapat wahyu Al Quran. Ketahuilah, ayahmu semasa hidupnya adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya. Akan tetapi, ia banyak membaca shalawat untukku. Ketika kematian menghampirinya, ia meminta pertolonganku. Aku banyak menolong orang yang banyak membaca shalawat untukku." Kemudian saya bangun dan melihat wajah ayah saya yang telah menjadi putih bersinar.

Sumber:
Kitab Tanbihul Ghofilin hal. 216
Penerbit: Darul Kitab al-‘Arobi, Beirut-Lebanon


Rabu, 16 Oktober 2013

Penjelasan Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu' Syarah al-Muhadzdzab mengenai maksud ungkapan Imam Syafii


صح عن الشافعي - رحمه الله - أنه قال : إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا قولي

Telah shahih riwayat dari Imam Syafii –semoga Allah merahmati beliau- sesungguhnya beliau berkata: Jika kalian menemukan dalam kitabku yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka katakanlah dengan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan tinggalkanlah perkataanku.

وروي عنه : إذا صح الحديث خلاف قولي فاعملوا بالحديث واتركوا قولي ، أو قال : فهو مذهبي ، وروي هذا المعنى بألفاظ مختلفة

Dan diriwayatkan dari beliau: Tatkala telah shahih suatu hadis yang menyelisihi perkataanku, maka beramallah kalian dengan hadis itu, dan tinggalkanlah perkataanku. Atau beliau berkata: Maka itulah madzhabku. Dan diriwayatkan makna-makna ini dengan redaksi yang berbeda.

وقد عمل بهذا أصحابنا في مسألة التثويب واشتراط التحلل من الإحرام بعذر المرض وغيرهما ، مما هو معروف في كتب المذهب .

Dan Ashab kami (Para Ulama Syafiiyah) sungguh telah beramal dengan perkataan ini dalam masalah tatswib dan syarat tahallul dari ihrom karena udzur sakit, dan sebagainya, dari apa yang diketahui dalam kitab-kitab madzhab.

وممن حكى عنه أنه أفتى بالحديث من أصحابنا أبو يعقوب البويطي وأبو القاسم الداركي ، وممن نص عليه أبو الحسن إلكيا الطبري في كتابه في أصول الفقه ، وممن استعمله من أصحابنا المحدثين الإمام أبو بكر البيهقي وآخرون ، وكان جماعة من متقدمي أصحابنا إذا رأوا مسألة فيها حديث ، ومذهب الشافعي خلافه عملوا بالحديث ، وأفتوا به قائلين : مذهب الشافعي ما وافق الحديث ، ولم يتفق ذلك إلا نادرا ، ومنه ما نقل عن الشافعي فيه قول على وفق الحديث .

Dan ada sebuah hikayat dari Ashab yang berfatwa dengan berdasarkan Madzhab Syafii dengan Hadits yang Nashnya ada pada Abu Ya’qub al Buwaythi dan Abu Qosim al Daroki dan juga Al Imam Abu Al Hasan Ilkiya ath-Thobary dalam kitab Ushul fiqh. Dan Para Sahabat Kami yang juga termasuk pakar hadis seperti al-Imam Abu Bakar al-Baihaqy dan selainnya memakai fatwa tersebut. Dan ada sekelompok pendahulu dari para sahabat kami ketika melihat suatu masalah yang terdapat hadis di dalamnya, namun Madzhab Syafii menyelisihinya, maka mereka beramal dengan hadis itu. Dan mereka berfatwa dengannya : Madzhab Syafii adalah apa yang bersesuaian Hadis, dan tidaklah hal itu terjadi kecuali memang jarang terjadi dalam masalah-masalah yg sedikit, dan yang termasuk di jadikan sandaran itu adalah apa yang bersumber dari Imam Syafii tentang wajibnya Mencocoki Hadits.


وهذا الذي قاله الشافعي ليس معناه أن كل واحد رأى حديثا صحيحا قال : هذا مذهب الشافعي وعمل بظاهره ، وإنما هذا فيمن له رتبة الاجتهاد في المذهب على ما تقدم من صفته أو قريب منه ، وشرطه : أن يغلب على ظنه أن الشافعي - رحمه الله - لم يقف على هذا الحديث أو لم يعلم صحته ، وهذا إنما يكون بعد مطالعة كتب الشافعي كلها ونحوها من كتب أصحابه الآخذين عنه وما أشبهها .

Dan perkataan Imam Syafii ini bukan berarti “KETIKA SESEORANG MENEMUKAN HADTS SAHIH MAKA DIA MENGATAKAN INILAH MADZHAB IMAM SYAFII DAN MENGAMALKAN DHAHIRNYA HADITS SAJA” , tetapi Perkataan Beliau ini tertuju kepada Orang yg telah mencapai Derajat “IJTIHAD MADZHAB”, atau yang sederajat, dan Syarathnya adalah seseorang itu telah melimpah kedalaman pengetahuannya dalam Hadits sehingga dia tidak menyangka bahwa Imam Syafii tidak melakukan pembandingan dg hadits yg menjadi Hujjah dia, dan agar dia tidak menyangka bahwa Imam Syafi,i tidak memahami atau tidak mengetahui kesahihan Hadits tersebut. Demikian ini bisa di tempuh setelah dia menelaah Kitab-kitab Imam Syafii semuanya dan Kitab-kitab serupa yang di sarikan dari Kitab Beliau dan Semua Ashhab-nya.

وهذا شرط صعب قل من يتصف به ، وإنما اشترطوا ما ذكرنا ; لأن الشافعي - رحمه الله - ترك العمل بظاهر أحاديث كثيرة رآها وعلمها ، لكن قام الدليل عنده على طعن فيها أو نسخها أو تخصيصها أو تأويلها أو نحو ذلك .

Dan ini semua adalah Syarat yg sulit di penuhi, sangat sedikit orang yg memenuhi kriteria tersebut”. Syarat ini kami sebutkan karena Imam Syafi’i tidak mengamalkan dhahir hadits yang telah beliau ketahui, akan tetapi ada dalil lain yang mencacatkan hadits itu, atau yang menaskh hadits itu, atau yang mentakhis atau yang menta’wilkan hadits itu”.

قال الشيخ أبو عمرو - رحمه الله - : ليس العمل بظاهر ما قاله الشافعي بالهين ، فليس كل فقيه يسوغ له أن يستقل بالعمل بما يراه حجة من الحديث ، وفيمن سلك هذا المسلك من الشافعيين من عمل بحديث تركه الشافعي - رحمه الله - عمدا ، مع علمه بصحته لمانع اطلع عليه وخفي على غيره ، كأبي الوليد موسى بن أبي الجارود ممن صحب الشافعي ، قال : صح حديث { أفطر الحاجم والمحجوم } ، فأقول : قال الشافعي : أفطر الحاجم والمحجوم ، فردا ذلك على أبي الوليد ; لأن الشافعي تركه مع علمه بصحته ، لكونه منسوخا عنده ، وبين الشافعي نسخه واستدل عليه ، وستراه في ( كتاب الصيام ) إن شاء الله تعالى

Asy-Syaikh Abu ‘Amru bin Shalih Rohimahullalh berkata: tidak boleh beramal dg dzahirnya perkataan Imam Syafii tersebut dg serampangan/mudah, bagi seorang Faqih tidaklah cukup mengamalkan dg Dzahirnya hadits yg dia lihat saja. Salah seorang yang menempuh metode seperti ini dari kalangan Ulama Madzhab Syafii seperti Abi Al Walid Musa bin Abi al Jarud sengaja mengamalkan amalan yg ditinggalkan Imam Syafii yang mana Beliau tahu kesahihan Hadits yang dipakai dalil oleh beliau. hal ini di tempuh karena Abil Walid mendapati sebuah alasan penolakan atas Hadits yg telah ia telaah dan tersamar atas hadits yang lainnya, seperti ketika dia mengatakan: Hadits Batallah orang yang membekam dan yang dibekam ini Sahih, tetapi Imam Syafii meninggalkannya (tidak di buat sebagai Hujjah batalnya Puasa) padahal Beliau tahu bahwa hadits tersebut sahih, tapi menurut pengetahuan Beliau hadits tersebut telah dinasakh, hal ini di jelaskan Oleh Beliau dan di jadikan sebagai dalil. Anda akan lihat dalam kitab Shiyaam, Insyaa Allahu Ta’ala.

وقد قدمنا عن ابن خزيمة أنه قال : لا أعلم سنة لرسول الله صلى الله عليه وسلم في الحلال والحرام لم يودعها الشافعي كتبه . وجلالة ابن خزيمة وإمامته في الحديث والفقه ، ومعرفته بنصوص الشافعي بالمحل المعروف .

Sungguh telah kami sebutkan riwayat dari Ibnu Khuzaimah, beliau berkata: Aku tidak menemukan sebuah hadits yang sahih namun tidak disebutkan Imam Syafii dalam kitab-kitabnya." Ia berkata, "Kebesaran Ibn Khuzaimah dan keimamannya dalam hadits dan fiqh, serta penguasaanya akan ucapan-ucapan Imam Syafii, sangat terkenal.”

قال الشيخ أبو عمرو : فمن وجد من الشافعية حديثا يخالف مذهبه نظر إن كملت آلات الاجتهاد فيه مطلقا ، أو في ذلك الباب أو المسألة كان له الاستقلال بالعمل به . وإن لم يكمل وشق عليه مخالفة الحديث بعد أن بحث . فلم يجد لمخالفته عنه جوابا شافيا ، فله العمل به إن كان عمل به إمام مستقل غير الشافعي ، ويكون هذا عذرا له في ترك مذهب إمامه هنا ، وهذا الذي قاله حسن متعين والله أعلم .

Syekh Abu Amru berkata, “Barang siapa menemui dari Syafi’i sebuah hadits yang bertentangan dengan madzhab beliau, jika engkau sudah mencapai derajat mujtahid mutlak, dalam bab, atau masalah itu, maka silahkan mengamalkan hal itu. Akan tetapi jika tidak sampai derajat itu dan mereka yang menentang tidak pula memiliki jawaban yang memuaskan, maka jika itu diamalkan oleh mujtahid madzhab lain, boleh ia melakukan, dan itu adalah sebuah udzur dimana ia meninggalkan salah satu pendapat madzhab Imamnya”. Imam Nawawi mengatakan bahwa yang dikatakan Syeikh Abu Amru ini merupakan perkataan yang cukup baik. Wallahu a’lam.

Jumat, 27 September 2013

Qasidah Sayyidina Hasan bin Tsabit Rodhiyallahu ‘Anhu Tatkala kewafatan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi Wa sallam




أطَالَتْ وُقُوفَاتَدْرِفُ الْعَيْنَ جُهْدَ هَا عَلَى طَلَلِ الْقَبْرِ الَّذِي فِيْهِ اَحْمَدُ

Lama kutegak dg airmata deras mengalir menghadap gundukan tanah yang padanya ahmad (muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam)

 لَقَدْ غَيَّبُواحُلْمًاوَعِلْمًا وَرَحْمَةً عَشِيَّةَ عَلَّوْهُ الْثَرَى لَا يُوَسَّدُ
Sungguh kami dan mereka telah kehilangan orang yang paling berkasih sayang dan lembut,samudera ilmu, dan kelembutan yang ramah, di petang ketika jasad beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam ..ditumpahkan tanah tanpa bantal

وَرَاحُوابِحُزْنٍ لَيْسَ فِيْهِمْ نَبِيُّهُمْ وَقَدْ وَهَنَتْ مِنْهُمْ ظُهُورٌ وَأِعْضُدُ
Dan satu persatu mereka pergi dengan penuh kesedihan kehilangan nabi yang selalu bersama mereka, yang membuat lemas pundak dan lutut mereka

يُبَكّونَ مَنْ تَبْكِي السّمَوَاتُ يَوْمَهُ وَمَنْ قَدْ بَكَتْهُ الْأِرْضُ فَالنّاسُ اَكْمَدُ
Mereka terus menangis, yang jagad raya menangis dihari itu, dan makhluk mulia yang ditangisi bumi dan orang-orang dalam kebingungan

وَهَلْ عَدَلَتْ يَوْمًارَزِيّةَ هَالِكٍ رَزِيّةَ يَوْمٍ مَاتَ فِيهِ مُحَمّدُ؟
Dan adakah hari musibah yang seimbang dengan hari musibah dan kesedihan hari wafat padanya Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam ?

فَبَكِّي رَسُولَ للهِ يَا عَيْنُ عَبْرَةً وَلَا اِّعْرِفَنَّكِ الدّهْرَ دَمْعُك يُذْمَدُ
Maka tangisilah Rasulullah wahai mata sebagai tanda bukti , agar jangan sampai zaman/ masa tidak mengenalmu tentang tetesan airmatamu yang tetap membeku dengan hal ini.

وَمَا لَكِ لَا تَبْكِيْنَ ذَا النِّعْمَةِ الّتِي عَلَى النّاسِ مِنْهَا سَابِغٌ يُتَغَمَّدُ
Dan apa yang menyebabkanmu tetap menahan tangis atas wafatnya sang pembawa kenikmatan pada seluruh manusia menyempurnakan kenikmatan yang padanya ummat ini menikmati limpahannya

فَجُودِي عَلَيْهِ بِالدّ مُوعِ وَأِعْوِلِي لِفَقْدِ الَّذِي لَا مِثلُهُ الدّهْرَ يُوجَدُ
Maka jangan kikir atas hal ini dengan airmata dan tersedu keras menangis, ketika kehilangan yang tiada akan di jumpai makhluk menyamainya sepanjang zaman.

وَمَا فَقَدَالْمَاُضونَ مِثْلَ مُحَمّدٍ وَلَا مِثْلُهُ حَتىَّ الْقِيَا مَةِ يُفْقَدُ
Tiada kehilangan selamanya, seperti kehilangan muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam yang tiada menyamai kehilangannya (shollallahu ‘alaihi wa sallam) hingga kiamat

مَا بَالُ عَيْنِكَ لَا تَنَامُ كَأَ نّمَا كُحِلَتْ مَآ قِيهَابِكُحْلِ الْاِّ رْمَدِ
Bagaimana pendapatmu jika matamu tidak bisa tertidur, karena terus dipenuhi airmata yang basah dan mengering.

جَزَعًاعَلَى الْمَهْدِيّ اَصْبَحَ ثَاوِيًا يَاخَيْرَ مَنْ وَطِئَ اَلْحَصَى لَا تَبْعَدِ
Guncangan yang mengagetkan hati pada pusara wahai yang semulia mulia makhluk dalam pendaman tanah, (wahai nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam) janganlah menjauh.

وَجْهِي يَقِيكَ التُرْبَ لَهْفِي لَيْتَنِي غُيّبْتُ قَبْلَكَ فِي بَقِيْعِ الْغَرْقدِ
Wajahku menatapmu wahai tanah , alangkah beruntungnya jika aku mati dan terpendam sebelummu (wahai Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam) dan sudah terkubur di pekuburan baqi’

بِاَّبِي وَاُمِي مَنْ شَحِدْتُ وَفَاتَهُ فِي يَوْمِ الَا ثُنَيْنِ النَّبِيّ
Demi ayahku dan ibuku , siapa yang menyaksikan seperti ku wafat beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam di hari senin nabi pembawa hidayah.

فَظلِلْتُ بَعْدَ وَفَاتِهِ مُتَبَلِّدًا مُتَلَدِّدًا يَا لَيْتَنِي لَمْ اٌولَدِ
Maka kulewati kebingungan dalam kehidupan dalam kehidupanku setelah wafat beliau, kegundahan, wahai alangkah indahnya jika aku tidak pernah dilahirkan.

أِاٌقِيمُ بَعْدَكَ بِالْمَدِينَةِ بَيْنَهُمْ يَالَيْتَنِي صُبِّحْتُ سَمّ الْاَّ سْوَدِ
Apakah aku mampu tinggal di madinah setelahmu shollallahu ‘alaihi wa sallam diantara mereka, alangkah indahnya jika diperbolehkan ku teguk racun yang paling mematikan

وَاللهِ اِّسْمَعُ مَا بَقِيتُ بِهَالِكٍ أِلَّا بَكَيْتُ عَلَى النَّبِي مُحَمَّدِ
Demi Allah (jika kelak) aku mendengar musibah selainnya, kecuali tetap aku akan menangisi Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam

يَاوَيْحَ أنْصَارِ النَّبِيّ وَرَهْطِهِ بَعْدَ الْمُغَيّبِ فِي سَوَاءِ الْمَلْحَدِ
Wahai kesusahanlah menimpa anshar Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan kelompoknya (muhajirin) setelah diturunkan dan hilangnya tidak tampak lagi tubuhmu (wahai Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam) ditanah yang terhampar..

ضَاقتْ بِالْاِّ نْصَارِ الْبلَادُ فَأِصْبَحُواسُو­دَاوُجُوهُهُمْ كَلَوْنِ الْاٍ ثْمِدِ
Sempitlah bagi anshar tempat tinggalnya, mereka berubah wajahnya menjadi suram dan kelam bagai warna penghitam mata….

وَاللهُ أِكْرَمَنَابِهِ وَهَدَى بِهِ أنْصَارَهُ فِي كُلِّ سَاعَةِ مَشْهَدِ
Maka semoga allah memuliakan kita dengan beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam dan melimpahkan hidayah, kepada semua pembela beliau di setiap waktu dan tempat

صَلّى الْاٍ لَهُ وَمَنْ يَحُفّ بِعَرْ شِهِ وَالطّيّبُونَ عَلَى المُباَرَكِ أحْمَدِ
Sholawat Tuhanku dan yang mengelilingi arsy-Nya subhanahu wa ta’ala, dan limpahan sholawat dari hamba-hamba yang penuh kebaikan berlimpah pada Ahmad (Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam) yang dilimpahi keberkahan

Kamis, 26 September 2013

CINTAKU dan CINTAMU

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa seorang wanita shalihah menjadi pelayan dalam sebuah rumah. Ia senantiasa melaksanakan shalat malam. 
 
Suatu hari, sang majikan mendengar doa-doa yang ia baca dalam sujudnya.
Katanya, "Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan cinta-Mu kepadaku agar Engkau memuliakanku dengan bertambahnya ketakwaan di hatiku ........dan seterusnya." 
 
Begitu ia selesai shalat, sang majikan bertanya kepadanya,"Dari mana kamu tahu kalau Allah mencintaimu?. Mengapa tidak kamu katakan saja,'Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan cintaku kepada-Mu?'"
 
Ia menjawab,"Wahai tuanku, kalau bukan karena cinta-Nya kepadaku, mana mungkin Dia membangunkan aku pada waktu-waktu seperti ini. Kalau bukan karena cinta-Nya kepada ku, mana mungkin Dia membangunkan aku untuk berdiri (shalat) menghadap-Nya. Kalau bukan karena cinta-Nya kepadaku, mana mungkin Dia menggerakkan bibirku untuk bermunajat kepada-Nya?."

========================
Dikutip dari kitab al-Hubb fil Quran wa Daurul Hubb fii Hayaatil Insaan

Minggu, 08 September 2013

BERBAIKSANGKA KEPADA ALLAH

Di dalam Kitab Sullamut taufiq, al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad menuliskan beberapa kewajiban yg berkenaan dg hati, di antaranya adalah husnudhon kepada Allah.

Husnudhon kepada Allah berarti mempunyai sangka baik kepada Allah. Banyak cara di dalam husnudhon kepada Allah, baik dengan memahami sifat-sifat Allah yang Maha Suci dan Maha Mulia, atau dg melihat pemberian dan anugrah Allah yg begitu luas dan banyak. Dg demikian, manusia akan bertambah iman ,ketaatan, dan syukur kepada-Nya, meskipun ada masalah-masalah yg menimpa dirinya.

Husnudhon kepada Allah dlm melaksanakan amal, tidak lain adalah dg cara memperbagus ibadah dan amal soleh, dan mengharapkan ampunan(maghfiroh) Allah. Lawan husnudhon adalah suudhon(berprasangka buruk). Contoh suudhon kepada Allah adalah bahwa Allah tidak mendengar doanya, karena dia banyak dosanya. Atau merasa banyak dosa, shg enggan meminta ampun kepada Allah, krn khawatir/takut dimurkai Allah. Suudhon jg bisa membawa akibat orang pesimis dan berputus asa kpd rohmat Allah. Adakalanya seorang hamba suudhon kpd Allah, krn ia merasa telah melaksanakan ibadah dg baik (sholat misalnya), telah berdzikir, telah berdoa, telah sedekah, tetapi sampai saat ini, ia belum menerima pemberian Allah. Ia merasa permohonannya tidak didengar dan tidak diterima oleh Allah.

Tidak semestinya seorang hamba berpikiran dan berperasaan sempit seperti itu. Bukankah Allah telah dan terus memberikan nikmat kepadanya? Bukankah nafas masih dikandung badan dan aktivitasnya merupakan anugrah dari-Nya?. Hanya manusia yg tak mau memikirkan dg baik bahwa anugrah Allah sangatlah banyak dan bahkan tak mampu dihitung. Ia hanya meminta dan menuntut, namun tak mau koreksi diri dan memikirkan bahwa anugrah Allah yg telah dan terus diberikan kepada-Nya begitu banyak. Dan penyakit ini, jika tak mampu disembuhkan, bisa menyebabkan putus harapan dan pesimis.

استغفر الله العظيم

Tetaplah tersenyum, karena ada rencana Allah yg lebih baik bagimu.... ^_^

الحمدلله رب العلمين

SEMOGA BERMANFAAT DAN BAROKAH

Selasa, 03 September 2013

Washiat al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man Kepada Para Pemuda

ولا تتوزوج الا بعد أن تعلم أنك تقدر على القيام بجميع حوائجها واطلب العلم أولا ثم اجمع المال من الحلال ثم تزوج, فانك ان طلبت المال في وقت التعلم عجزت عن طلب العلم ودعاك المال الى شراء الجواري والغلمان وتشتغل بالدنيا والنساء قبل تحصيل العلم, فيضيع وقتك ويجتمع عليك الولد ويكثر عيالك فتحتاج الى القيام بمصالحهم وتترك العلم.

Janganlah engkau (terburu-terburu) menikah kecuali setelah engkau tau bahwasanya engkau sudah mampu untuk bertanggung jawab memenuhi seluruh kebutuhan-kebutuhan istrimu.

Carilah ilmu terlebih dahulu, kemudian (setelah punya ilmu) kumpulkanlah harta benda dari jalan yang halal lalu menikahlah.

Jika engkau mencari harta benda di tengah-tengah waktumu mencari ilmu, maka engkau akan lemah di dalam mendapatkan ilmu, karena harta benda selalu mengajakmu untuk terus berniaga dengan orang-orang sekitarmu, dan engkau akan tersibukkan dengan urusan dunia juga wanita sebelum engkau benar-benar mendapatkan ilmu.

(Jika itu yang terjadi) maka waktumu akan tersia-siakan, dan engkau akan mempunyai banyak anak, keluargamu akan menjadi semakin banyak juga. Oleh karena itu, maka engkau akan sangat berhajat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dan engkau lalu meninggalkan ilmu.

واشتغل بالعلم في عنفوان شبابك ووقت فراغ قلبك وخاطرك ثم اشتغل بالمال ليجتمع عندك, فان كثرة الولد والعيال يشوش البال, فاذا جمعت المال فتزوج.

Sibukkanlah waktumu dalam mencari ilmu pada masa-masa mudamu, pada waktu hatimu masih senggang dari banyak pikiran, kemudian setelah itu (setelah ilmu berhasil diraih), sibukkanlah dirimu untuk mengumpulkan harta benda, karena sesungguhnya banyaknya anak dan keluarga akan mengganggu pikiran. Dan ketika harta sudah kau raih, maka menikahlah.

*Di nukil dari kitab al-Asybah wa an-Nadzoir li Ibni Najm
piss-ktb.com/2013/02/2228-mencari-ilmu-dahulu-lalu-baru.html