Kamis, 04 Juli 2013

Sholawat dalam kitab ar-Risalah lil imam Asy-Syafi'i





فصلى الله على نبينا كلما ذكره الذاكرون، وَغَفَل عن ذكره الغافلون، وصلى عليه في الأولين والآخرين، أفضلَ وأكثرَ وأزكى ما صلى على أحد من خلقه. وزكانا وإياكم بالصلاة عليه أفضل ما زكى أحدا من أمته بصلاته عليه، والسلام عليه ورحمة الله وبركاته، وجزاه الله عنا أفضل ما جزى مرسلا عن من أُرسل إليه؛ فإنه أنقذنا به من الهلكة، وجعلنا في خير أمة أخرجت للناس، دائنين بدينه الذي ارتضى، واصطفى به ملائكته ومن أنعم عليه من خلقه. فلم تُمس بنا نعمة ظهرت ولا بَطَنَت، نلنا بها حظا في دين ودنيا أو دُفِعَ بها عنا مكروه فيهما، وفي واحد منهما: إلا ومحمد صلى الله عليه سببها، القائدُ إلى خيرها، والهادي إلى رشدها، الذائدُ عن الهلكة وموارد السَّوء في خلاف الرشد، المنبِّهُ للأسباب التي تورد الهلكة، القائمُ بالنصيحة في الإرشاد والإنذار فيها. فصلى الله على محمد وعلى آل محمد كما صلى على إبراهيم وآل إبراهيم إنه حميد مجيد

Semoga Allah melimpahkan sholawat (karunia) kepada Nabi kita setiap kali manusia menyebut nama-Nya dan saat manusia lalai untuk menyebut nama-Nya.

Semoga Allah melimpahkan sholawat (karunia) kepada beliau pada awal dan akhir, secara lebih baik, lebih banyak, dan lebih suci daripada karunia yang dilimpahkan-Nya kepada satu makhluk-Nya.

Semoga Allah membersihkan kita dengan sholawat kepadanya dengan pembersihan terbaik yang dilakukannya terhadap satu umatnya lantaran sholawatnya kepada beliau.

Semoga salam, rahmat, dan berkah Allah senantiasa terlimpah kepada beliau.

Semoga Allah membalas atas jasanya kepada kami dengan balasan terbaik yang diberikan-Nya kepada seorang Rasul atas apa yang diutuskan kepadanya, karena beliau telah menyelamatkan kita dari kehancuran, menjadikan kita berada di tengah sebaik-baik umat yang pernah dimunculkan kepada manusia, dengan komitmen terhadap agama yang diridhoi-Nya. Untuknya Allah memilih para malaikat-Nya dan para makhluk yang diberi-Nya nikmat. Jadi, tidak ada nikmat yang kita peroleh, baik lahir maupun batin, sehingga dengannya kita mendapatkan keuntungan dalam masalah agama dan dunia, atau dijauhkan dari hal buruk menyangkut kedua masalah tersebut atau salah satunya. Tidak ada nikmat tersebut kecuali Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam perantaranya, pemandu menuju kebaikan-Nya, penuntun kepada petunjuk-Nya, penghalau dari kehancuran dan sumber-sumber keburukan akibat perselisihan dalam membaca petunjuk, pengingat tentang sebab-sebab yang menjerumuskan kepada kehancuran, serta pemberi nasehat petunjuk dan peringatan.

Semoga Allah melimpahkan sholawat (karunia) kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Allah melimpahkan sholawat (karunia) kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Kitab ar-Risalah
Karya Imam Syafii hal. 13
Penerbit: Maktabah Al-'Ashriyyah - Beirut

Rabu, 03 Juli 2013

Menyingkap Tabir Hati

Tidakkah engkau melihat anugrah Allah yg begitu indah?
Tidakkah engkau merasakan sejuknya air yg menghapus dahagamu?
Tidakkah engkau berpikir bagaimana tubuhmu yg lemah mjd kuat krn menghirup udara?
Dan, tidakkah engkau berpikir akan kemana engkau setelah hidup dlm kefanaan ini?

Engkau boleh, tidak mempunyai pusaka dunia, namun engkau tidak boleh tidak, mempunyai pusaka iman.
Engkau boleh, tidak mempunyai kendaraan dunia, namun engkau tidak boleh tidak ,mempunyai kendaraan akhirat.
Apakah itu? Itulah iman, ilmu dan amal sholeh.

Engkau adlah makhluk yg dimuliakan, namun terkadang engkau tak menyadari itu, shg terperosoklah engkau ke dlm jurang kenistaan. Na'udzubillah.
Ingatkah kamu, ketika membuka lembar-lembar kitab Bidayatul Hidayah? Ad-dun yaa Mazro'atul aakhiroh (Dunia itu sawah/ladangnya akhirat).
Dan Ingatkah kamu apa arti dunia dan akhirat itu?
Dunia adalah segala sesuatu yg menghalangi hatimu untuk menghadap kpd Allah, dan sebaliknya apapun yg dpt membantumu menghadap kpd Allah, maka ia adalah akhirat.

Tidakkah engkau ingat dlm lembar-lembar kitab Ta'limul Muta'allim?
Ada perkara yg kelihatannya amal dunia, namun menjadi amal akhirat karena bagusnya niat, dan ada perkara yg nampaknya amal akhirat, tetapi berubah mjd amal dunia, krn jeleknya niat.

Tidakkah engkau menyaksikan Allah dlm setiap waktumu?
Kalopun tidak, apakah engkau tidak menyaksikan Allah dalam sholatmu?
Bgaimana menyaksikan (keagungan) Allah?
Engkau bisa cinta, bisa rindu, bisa cemas, bisa harap, dan bisa takut.
Itu smua terserah Allah, dimana engkau didudukkan ketika sholat.
Jika engkau takut, maka engkau akan menangis, jika engkau cinta, hatimu akan lapang.
Pernahkan engkau merasakan demikian?
Jika tidak, apakah sholatmu hanya rutinitas belaka? 

Jika iya, lantas dimana bekas-bekas sholatmu?
Bagaimana mungkin membekas sholatmu jika akhlakmu masih buruk.
Bagaimana mungkin hatimu tentram, sementara yg engkau ingat hanya tabir belaka.
Dan bagaimana mungkin hatimu lapang, sementara hatimu penuh kebencian, dendam, dan kecurigaan???.



Selasa, 02 Juli 2013

MUNAJAT


قَدْ كَفَانِيْ عِلْمُ رَبِّي مِنْ سُؤَالِي وَاخْتِيَارِ

Sungguh telah cukup bagiku kepuasan dan ketenanganku bahwa Penciptaku Maha Mengetahui Segala Permintaanku dan Usahaku

فَدُ عَائِي وَابْتِهَالِي شَاهِدٌ لِي بِافْتِقَارِي

Maka do'a do'a dan jeritan hatiku sebagai saksiku atas kefakiranku (dihadapan kewibawaanMU)

فَلِهَذَا السِّرِّ أَدْعُو فِي يَسَارِي وَعَسَارِي

Maka demi rahasia kefakiranku ( dihadapan KewibawaanMu)aku selalu mohon (padaMu) disaat kemudahan dan kesulitanku

أَنَا عَبْدٌ صَارَفَخْرِي ضِمْنَ فَقْرِي وَاضْطِرَارِي

Aku adalah hamba yang kebangganku adalah dalamnya kemiskinanku dan besarnya kebutuhanku (padaMu)

يَا إِلَهِي وَمَلِكِي أَنْتَ تَعْلَم كَيْفَ حَالِي

Wahai Tuhanku Wahai yang memiliki diriku,Engkau Maha Mengetahui bagaimana keadaanku

وَبِمَا قَدْ حَلَّ قَلْبِي مِنْهُمُومٍ وَاشْتِغَالِي

Dan dari segala yang memenuhi hatiku dari kegundahan dan kesibukanku (hingga terlupakan dari mengingatMu)

ياَسَرِ يْعَ الْغَوْثِ غَوْثًا مِنْكَ يُدْرِكْنِي سَرِيعًا

Wahai Yang Maha cepat mendatangkan pertolongan,temukan kami dengan pertolongan dari Mu yang mendatangi kami dengan segera

يهْزِمُ الْعُسْرَوَيَأْتِي بْالَّذْي أَرْجُو جَمِيعًا

Pertolongan yang merubuhkan segala kesulitan,dan mendatangkan segala yang kami harap harapkan

يَاقَرِيْبًا يَامُجِيْبًا يَاعَلِيْمًا يَاسَمِيْعًا

Wahai Yang Maha Dekat,Wahai Yang Maha Menjawab segala rintihan,Wahai Yang Maha Mengetahui,Wahai Yang Maha Mendengar

قَدْ تَحَقَّقْتُ بِعَجْزِي وَخُضُوْعِي وَانْكِسَارِي

Sungguh aku telah benar-benar meyakini kelemahan dan ketidakmampuanku,kerendahan dan keluluhanku

لَمْ أَزَلْ بِالْبَابِ وَاقِفْ فَارْحَمَنْ رَبِّي وُقُوْفِي

Aku masih tetap berdiri di Gerbang Mu,maka kasihanilah aku yang masih terus menunggu

وَبِوَادِي الْفَضْلِ عَاكِفْ فَأَدِمْ رَبِّي عُكُوفِي

Dan di Lembah Anugerah Kasih SayangMu aku berdiam maka abadikanlah keadaanku ini

حَاجَةٌ فِي النَّفْسِ يَارَبْ فَاقْضِهَا يَاخَيْرَ قَاضِي

Segala kebutuhan dalam diriku Wahai Penciptaku maka selesaikanlah,Wahai sebaik-baik yang menyelesaikan kebutuhan

وَأَرِحْ سِرِّي وَقَلْبِي مِنْ لَظَاهَا وَالشُّوَاظِ

Dan tenangkanlah ruhku dan sanubariku dari gejolak dan gemuruhnya (nafsu,kemarahan,kesedihan,kebingungan,d­an penyakit penyakit hati)

فاَلْهَنَا وَالْبَسْطُ حَالِي وَشِعَارِي وَدِثَارِي

Maka kegembiraan dan kebahagiaan menjadi keadaanku selalu,dan menjadi lambang kehidupanku dan selubung perhiasanku

قَدْ كَفَانِي عِلْمُ رَبِّي مِنْسُؤَالِي وَاخْتِيَارِي

Sungguh telah cukup bagiku kepuasan dan ketenangan bahwa penciptaku Maha Mengetahui Segala permohonan dan usahaku

Empat golongan manusia

Dalam kitab Adabud dunya wad diin hal. 87-88, penerbit: Maktabah al-'Ashriyyah, Beirut-Lebanon, disebutkan bahwa ada 4 golongan manusia:

رجل يدري ويدري أنه يدري، فذلك عالم فاسألوه
(Pertama) Orang yang tahu dan tahu bahwa dirinya tahu. Dialah orang 'alim, maka bertanyalah kepadanya.

ورجل يدري ولايدري أنه يدري، فذلك ناس فذكروه
(Kedua) Orang yang tahu, namun tidak tahu bahwa dirinya tahu. Dialah orang yang lupa, maka ingatkanlah ia.

ورجل لا يدري ويدري أنه لا يدري، فذلك مسترشد فأرشدوه
(Ketiga) Orang yang tidak tahu dan tahu bahwa dirinya tidak tahu. Dialah orang yang butuh bimbingan, maka bimbinglah ia.

ورجل لا يدري ولايدري أنه لا يدري، فذلك جاهل فارفضوه
(Dan keempat) Orang yang tidak tahu, dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Dialah orang bodoh, maka tinggalkanlah ia.

Kitab Diwan Imam Syafi'i (Kumpulan syair-syair Imam Syafi'i)



اصبر على مر الجفا من معلم        *       فإن رسوب العلم في نفراته
ومن لم يذق مر التعلم ساعة         *     تجرع ذل الجهل طول حياته
ومن فاته التعليم وقت شبابه         *            فكبر عليه أربعا لوفاته
وذات الفتى والله بالعلم والتقى        *          إذا لم يكونا لاعتبار لذاته

Bersabarlah atas pedihnya kekerasan pengajar * Karena sesungguhnya kekokohan ilmu itu berada pada kesulitannya


Barang siapa tidak mencicipi pahitnya belajar walau sebentar * ia akan menelan kehinaan sepanjang hayatnya

Barang siapa melewatkan belajar di masa mudanya * maka bertakbirlah empat kali karena kematiannya

Demi Allah, hidup seorang pemuda itu tergantung ilmu dan takwa * Jika keduanya tidak ada, keberadaannya tidak dianggap
فقيهاً وصوفياً فكن ليس واحدا     *         فإنــي وحـق الله إيـاك أنصح
فذلك قاس لم يذق قلبه تقــى       *  وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح


Jadilah kamu seorang ahli fiqih yang bertasawwuf jangan jadi salah satunya * Sungguh dengan haq Allah aku menasehatimu.

Jika kamu menjadi ahli fiqih saja, maka hatimu akan keras tak akan merasakan nikmatnya taqwa * Dan jka kamu menjadi yang kedua saja, maka sungguh dia orang teramat bodoh, maka orang bodoh tak akan menjadi baik.

إن الفقيه هـو الفقيـه بفعلـه       *              ليس الفقيـه بنطقـه ومقالـه
وكذا الرئيس هو الرئيس بـخلقه        *           ليس الرئيس بقومه ورجالـه
وكذا الغنـي هو الغني بحالــه      *              ليس الغنـي بملكـه وبمالـه

Sesungguhnya orang yang faqih itu adalah dinilai dengan perbuatannya * Bukanlah orang yang faqih itu dinilai dengan ucapan dan perkataannya.

Begitu juga pemimpin itu adalah dinilai dengan kemuliaan akhlaknya  * Bukanlah pemimpin itu dinilai dengan banyaknya pengikut dan pembela-pembelanya.

Begitu juga orang yang kaya itu adalah dinilai dengan keadaan (kedermawanan)nya *  Bukanlah orang yang kaya itu dinilai dengan banyaknya harta bendanya.


Senin, 01 Juli 2013

TAK KAN PERNAH SIRNA

لا يغيب

(Tak kan pernah sirna)


لا يغيب الود عنا # مايفارقنا الوفا

الإخاء فى الله جمعنا # والمحبة والصفا

Cinta kami tak akan pernah sirna. Kesetiaan tidak akan membuat kami terpisah. Persaudaraan, cinta, dan kesetiaan karena Allah telah mengumpulkan kami.


بالنبى الهادى اقتدينا # الحبيب المصطفى

هبت أخلاقه علينا # كلها طيب شفا

Kami meneladani Nabi  Sang pemberi hidayah. Kekasih yang tepilih. Hembusan akhlaqnya menerpa kami. Semuanya adalah pengharum dan penawar hati kami.


نشكرالله لإلتقنا # من دعاالله اقتفا

و إن تباعدنا التقينا # فى علنا والخفا

Kami mensyukuri ni'mat perjumpaan kami. Allah akan mencukupi yang berdoa kepada-Nya. Meskipun kita berjauhan kita tetap berjumpa baik dengan jasad maupun hati.


و إن تعاتبنا رضينا # والزعل منا اختفا

لوحصل جرح نسينا # ماتعودنا الجفا

Jika kita berselisih kita akan saling meridhoi. Marah dan dendam pun akan sirna. Andai ada luka kita akan melupakannya. Kita tak tahan untuk saling tak menyapa.


لايعيث الظن فينا # لايعاشرنا الجفا

لو تخاصمنا عفينا # يرعى الله من عفا

Kita tak akan pernah saling berprasangka buruk. Sikap tak peduli bukanlah sifat kami. Jika kita berselisih kita akan saling memaafkan. Allah senantiasa memelihara orang yang saling memaafkan.


بالنبى الهادى انتهانا # ختمها بالمصطفى

واله والتابعين # والصحابة الخلفا

Kami mengakhiri syair kami dengan membaca sholawat kepata Al-Musthofa beserta keluarga, tabi'in, dan para sohabat.

KETIKA ABDULLAH BIN UBAY BIN SALUL MENINGGAL


Ibnu Ishaq berkata, Az-Zuhri berkata kepadaku dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Abbas yang berkata, aku mendengar Umar bin Khaththab Rodhiyallahu ‘anhu berkata,
“Ketika Abdullah bin Ubai meninggal dunia, Rasulllah shollallahu ‘alaihi wa sallam dipanggil untuk menyalatinya. Kemudian beliau pergi ke tempat jenazah Abdullah bin Ubai. Ketika beliau berdiri di depan Abdullah bin Ubai untuk menyalatinya, aku pindah tempat hingga berdiri di depan beliau.

Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menyalati musuh Allah, Abdullah bin Ubai bin Salul, yang pernah berkata ini dan itu pada hari ini dan itu? Ia juga pernah berkata ini dan itu pada hari ini dan itu?’
Aku menyebutkan hari-hari dimana pada hari-hari tersebut Abdullah bin Ubai bin Salul pernah berkata ini dan itu. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum.
Ketika aku terus menerus berkata seperti itu kepada beliau, beliau bersabda kepadaku, ‘Hai Umar, berilah aku waktu, karena aku diberi pilihan kemudian aku mengambil pilihanku, kemudian dikatakan kepadaku:

استغفر لهم أو لا تستغفر لهم إن تستغفر لهم سبعين مرة فلن يغفر الله لهم ذلك بأنهم كفروا بالله ورسوله والله لا يهدي القوم الفاسقين

Kamu mohonkan ampunan bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampunan bagi mereka (adalah sama saja); kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka; yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS. At-Taubah: 80).

Jika aku tahu bahwa jika aku memintakan ampunan lebih dari tujuh puluh kali, kemudian dosa Abdullah bin Ubai bin Salul diampuni, aku akan menambah permintaan ampunan untuknya lebih dari tujuh puluh kali.’

Kemudian Rasulullah menyalati jenazah Abdullah bin Ubai bin Salul dan aku berjalan bersama beliau hingga beliau berdiri di atas kuburannya dan proses penguburannya selesai.
Aku heran dengan kelancanganku terhadap Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.
Demi Allah, tidak lama setelah itu, turunlah dua ayat berikut:

ولا تصل على أحد منهم مات أبدا ولا تقم على قبره إنهم كفروا بالله ورسوله وماتوا وهم فاسقون

Artinya: ”Dan janganlah kamu sekali-kali menyalati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya, sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. at-Taubah: 84)

Sejak itu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah lagi menyalati jenazah orang munafik, hingga beliau wafat.”

Disarikan dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir dan Kitab Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam