Senin, 21 September 2015

Amalan-amalan di bulan Dzulhijjah


Bulan Dzulhijjah adalah bulan ke-12 dalam kalender Hijriyah. Di dalamnya terdapat 10 hari yang mulia dan utama, sebagaimana dijelaskan oleh ulama pakar fiqh:

 أن أيام عشر ذي الحجة ولياليها أيام شريفة ومفضلة، يضاعف العمل فيها، ويستحب الاجتهاد في العبادة فيها، وزيادة عمل الخير والبر بشتى أنواعه فيها، ولعظم شأنها أقسم الله سبحانه بها بقوله: {والفجر وليال عشر}  حيث يرى جمهور المفسرين أن المقصود من الآية هي عشر ذي الحجة.

Hari-hari sepuluh awal Dzulhijjah, baik malam hari maupun siang harinya adalah mulia dan utama, dilipatgandakan (pahala) amal di dalamnya, disunnahkan bersungguh-sungguh beribadah di dalamnya, dan meningkatkan segala amal baik dan segala kebajikan dengan berbagai macam bentuknya.
Saking agungnya perkara ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah dengan firman-Nya:

والفجر وليال عشر

Demi waktu fajar dan malam-malam sepuluh. Mayoritas Ulama pakar tafsir menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah.

Demikian pula, keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah ini berdasarkan informasi Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana Riwayat Ibnu 'Abbas:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام، يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء.

Tidak ada hari, amal shalih padanya yang lebih Allah cintai daripada sepuluh hari (Dzul Hijjah)."Mereka berkata; wahai Rasulullah, tidak pula berjihad di jalan Allah? Beliau berkata: ""Tidak pula berjihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali membawa sesuatupun".

(HR. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Dan juga Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Rodhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 ما من أيام أحب إلى الله أن يتعبد له فيها من عشر ذي الحجة، يعدل صيام كل يوم منها بصيام سنة، وقيام كل ليلة منها بقيام ليلة القدر

Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah, satu hari berpuasa didalamnya setara dengan setahun berpuasa dan satu malam mendirikan shalat malam setara dengan shalat pada malam lailatul qadar.

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Adapun amalan-amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan adalah:
(1) Tidak memotong rambut maupun kuku ketika memasuki tanggal 1 dzulhijjah hingga selesai penyembelihan qurban bagi yang berqurban.
Dasarnya:

وعن أم سلمة - رضي الله عنها - قالت: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: «إذا دخل العشر، وأراد بعضكم أن يضحي فلا يمس من شعره وبشره شيئا، وفي رواية: فلا يأخذن شعرا، ولا يقلمن ظفرا، وفي رواية: من رأى هلال ذي الحجة وأراد أن يضحي، فلا يأخذ من شعره ولا من ظفاره»

Dari Ummu Salamah -Rodhiyallahu 'anhaa-, beliau berkata:
Rasulullah -shollallahu 'alaihi wasallam- bersabda:
Jika telah tiba sepuluh (dzul Hijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah menyentuh rambut ataupun kulit sedikitpun.
Dalam satu riwayat yang lain: maka janganlah mengambil rambut dan janganlah memotong kuku.
Dalam riwayat lain: Barang siapa melihat hilal Dzulhijjah dan menghendaki untuk berqurban, maka janganlah mengambil rambutnya maupun kuku-kukunya.

(HR. Muslim)

(2) Berpuasa sunnah dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah, atau tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah) dan atau tanggal 9 Dzulhijjah (hari 'Arofah).
Dasarnya:
Hadis riwayat Ibnu 'Abbas di atas dan dengan kesepakatan ulama pakar fiqh lintas madzhab mengenai kesunnahan puasa tarwiyah.

اتفق الفقهاء على استحباب صوم الأيام الثمانية التي من أول ذي الحجة قبل يوم عرفة، لحديث ابن عباس.

Adapun puasa Arofah:
Ulama pakar fiqh sepakat mengenai kesunnahan puasa Arofah bagi selain haji.
Hal ini berdasar hadis yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah -Radhiyallahu 'anhu- bahwa Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:

روى أبو قتادة - رضي الله تعالى عنه - أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: صيام يوم عرفة، أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله، والسنة التي بعده.

Puasa pada hari Arafah, aku memohon pula kepada Allah, agar puasa itu bisa menghapus dosa setahun setahun penuh sebelumnya dan setahun sesudahnya.
(HR. Muslim)

Begitu pula dianjurkan memperbanyak doa di hari Arafah, karena termasuk hari yang utama.

(3) Memperbanyak dzikir, shodaqoh, sholat sunnah baik di siang maupun malam hari berdasar Hadis riwayat Ibnu Abbas dan riwayat Abu Hurairah di atas.

(4) Menghidupkan malam 'Id.
Hal ini berdasar kesepakatan Ulama pakar fiqh dan hadits ini:
من قام ليلتي العيد محتسبا لم يمت قلبه يوم تموت القلوب
Barangsiapa yang menegakkan dua malam 'Id, diharapkan hatinya tidak mati ketika hati orang lain mati.
(HR. Ibnu Majah)

(5) Mengumandangkan takbir baik di masjid, musholla, jalan-jalan, di rumah, dsb dimulai dari setelah sholat subuh di hari Arafah hingga menjelang sholat Asar tanggal 13 Dzulhijjah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar.

وأما عيد الأضحى، فيكبر فيه من بعد صلاة الصبح من يوم عرفة إلى أن يصلي العصر من آخر أيام التشريق.

(6) Mandi untuk Shalat 'Id.
(7) Memakai wangi-wangian saat akan sholat 'Id.
(8) Memakai pakaian yang yang paling baik, dan yang lebih utama adalah pakaian warna putih dan juga memakai serban. Jika hanya memiliki satu pakaian saja, maka tidaklah mengapa ia memakainya. Ketentuan ini berlaku bagi kaum laki-laki yang hendak berangkat shalat Id maupun yang tidak. Sedangkan untuk kaum perempuan cukupla ia memakai pakaian biasa sebagaimana pakaian sehari-hari, dan janganlah ia berlebih-lebihan dalam berpakaian serta memakai wangi-wangian.
(9) ketika berjalan menuju ke masjid ataupun tempat shalat Id hendaklah ia berjalan kaki karena hal itu lebih utama, sedangkan untuk para orang yang telah berumur dan orang yang tidak mampu berjalan, maka boleh saja ia berangkat dengan menggunakan kendaraan.
(10) Memilih jalan yang berbeda ketika berangkat ke Masjid dan pulang dari Masjid.
(11) Mengerjakan Sholat 'Id dan mendengarkan khutbah 'Id.
(12)Disunnahkan makan setelah selesai melaksanakan shalat Id, berbeda dengan Hari Raya Idul Fitri yang disunahkan makan sebelum melaksanakan shalat Id.
(13) Berqurban dengan seekor kambing untuk satu orang, atau seekor unta/sapi untuk tujuh orang. Jika tidak mampu, setidaknya berqurban dengan seekor kambing untuk satu keluarga.
(14) Mengucapkan tahniah/selamat hari Id bagi sesama muslim.

Referensi:
(1) Kitab al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah
(2) Kitab al-Adzkar lil Imam an-Nawawi
(3) Kitab Raudhatut Thalibin
(4) Kitab-kitab Mutuun dan Syuruuh Hadits

Wallahu a'lam

Minggu, 20 September 2015

Kalam Hikmah Ulama II


✒ Fudhoil bin 'Iyyadh berkata:

المؤمن قليل الكلام كثير العمل , والمنافق كثير الكلام قليل العمل , كلام المؤمن حكم وصمته تفكر ونظره عبرة وعمله بر وإذا كنت كذا لم تزل في عبادة

Seorang yang beriman itu sedikit bicara banyak beramal. Sementara seorang munafik itu banyak bicara sedikit beramal.

Perkataan seorang yang beriman adalah hikmah,  diamnya tafakur,  pandangannya pelajaran,  dan amal perbuatannya adalah kebaikan.

Jika engkau bisa seperti itu,  maka engkau senantiasa dalam ibadah.

✒ Sufyan bin 'Uyainah berkata:

ليس العاقل الذي يعرف الخير والشر , إنما العاقل الذي إذا رأى الخير اتبعه وإذا رأى الشر اجتنبه
Bukanlah orang yang berakal itu yang mengetahui kebaikan dan keburukan. Akan tetapi,  orang yang berakal adalah orang yang ketika mengetahui kebaikan ia mengikutinya dan ketika mengetahui keburukan ia menjauhinya.

✒ Bisyr bin al-Harits berkata:

الصبر هو الصمت والصمت من الصبر ولا يكون المتكلم أورع من الصامت إلا رجل عالم يتكلم في موضعه ويسكت في موضعه

Kesabaran adalah diam. Sementara diam adalah bagian dari kesabaran.
Tidaklah orang yang berbicara menjadi lebih waro' daripada orang yang diam, kecuali seorang 'alim yang berbicara sesuai tempatnya dan diam sesuai tempatnya.

من حلية الأولياء وطبقات الأصفياء

Kalam Hikmah Ulama I


✒ إذا طلبت صلاح قلبك فاستعن عليه بحفظ لسانك

Jika engkau mencari kebaikan hatimu,  maka mohonlah pertolongan baginya dengan menjaga lisanmu.

✒ لسانك ترجمان قلبك وجهك مرآة قلبك يتبين على الوجه ما تضمر القلوب

Lisanmu adalah penerjemah hatimu,  sementara wajahmu adalah cerminan hatimu. Akan senantiasa nampak pada wajah apa yang tersembunyi dalam hati.

✒ قلوب الطاهرين تشرح بالتقوى وتزهر بالبر وقلوب الفجار تظلم بالفجور وتعمى بسوء النية

Hati orang-orang yang mensucikan diri itu lapang dengan takwa dan cemerlang dengan kebaikan,  sementara hati orang-orang yang fajir itu gelap dengan fujur (keburukan) dan buta dengan niat yang buruk.

✒ من ظن نفسه خيرا من نفس فرعون فقد أظهر الكبر. أي لأن خاتمته مغيبة

Siapa saja yang menyangka dirinya lebih baik dari Fir'aun, maka dia sungguh telah menampakkan kesombongan. Ini karena akhir hayatnya termasuk perkara ghaib (tak ia ketahui, apakah wafatnya nanti dalam keadaan muslim/kafir)

✒ ﺇﺫﺍ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﺇﺑﻠﻴﺲ ﻭﺟﻨﻮﺩﻩ ﻟﻢ ﻳﻔﺮﺣﻮﺍ ﺑﺸﻲﺀ ﻛﻔﺮﺣﻬﻢ ﺑﺜﻼﺛﺔ : ﻣﺆﻣﻦ ﻗﺘﻞ ﻣﺆﻣﻨﺎ، ﻭﺭﺟﻝ ﻳﻤﻮﺕ ﻛﺎﻓﺮﺍ، ﻭﻗﻠﺐ ﻓﻴﻪ ﺧﻮﻑ ﺍﻟﻔﻘﺮ .

Tatkala Iblis dan pasukannya berkumpul, tidaklah mereka bergembira dengan sesuatu apapun sebagaimana mereka bergembira dengan 3 hal:
(1) Seorang mu'min yang membunuh seorang mu'min yang lain;
(2) Seseorang yang mati dalam keadaan kafir; dan
(3) Hati yang di dalamnya terdapat rasa takut akan kefakiran

Hadits dan Fiqh seputar Qurban

A. Matan (Redaksi) Hadis

(1) Hadits Abu Sa'id al-Khudri

عن أبي سعيد الخدري، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ضحى بكبش أقرن، وقال  : " هذا عني، وعمن لم يضح من أمتي.

Dari Abu Said al-Khudri, sesungguhnya Rasululullah shollallahu 'alaihi wasallam berqurban dengan kambing kibasy lagi bertanduk, dan beliau mengatakan: Ini dariku dan dari ummatku yang tidak berqurban.

HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya juz 17, hal. 103

(2) Hadits Jabir bin 'Abdullah
Hadits riwayat Jabir ini dalam Musnad Ahmad dengan 3 redaksi:

أن جابر بن عبد الله، قال: صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيد الأضحى، فلما انصرف أتى بكبش فذبحه، فقال: " بسم الله، والله أكبر، اللهم إن هذا عني وعمن لم يضح من أمتي

Sesungguhnya Jabir bin 'Abdullah, beliau berkata: Aku sholat Idul Adha bersama Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam. Ketika telah selesai, beliau membawa kambing kibasy lalu menyembelihnya. Kemudian beliau berdoa: Bismillah wallahu akbar. Allahumma inna hadza 'annii wa 'ammallam yudhohhi min ummatii (Yaa Allah, sesungguhnya ini dariku dan dari ummatku yang tidak berqurban).

HR. Imam Ahmad dalam musnadnya no. 14837, juz 23, hal. 134

 عن جابر بن عبد الله، قال: شهدت الأضحى مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بالمصلى، فلما قضى خطبته أتى بكبش فذبحه بيده، وقال: " بسم الله وبالله، اللهم إن هذا عني، وعمن لم يضح من أمتي "

Dari Jabir bin 'Abdullah, beliau berkata: Aku menyaksikan/menghadiri Idul Adha bersama Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam di Musholla (lapangan penyelenggaraan sholat Id). Ketika beliau telah menyelesaikan khutbah beliau, beliau membawa kambing kibasy, lalu beliau menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri, dan beliau berdoa: Bismillah wa billah. Allahumma inna hadza 'annii wa 'amman laa yudhohhi min ummatii.

 HR. Imam Ahmad dalam musnadnya no. 14893, juz 23, hal. 171

 عن جابر بن عبد الله، قال: شهدت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم الأضحى بالمصلى، فلما قضى خطبته نزل من منبره، وأتى بكبش فذبحه رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده، وقال: " بسم الله والله أكبر، هذا عني، وعمن لم يضح من أمتي "

Dari Jabir bin 'Abdullah, beliau berkata: Aku menyaksikan/menghadiri Idul Adha bersama Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam di Musholla (lapangan penyelenggaraan sholat Id). Ketika beliau telah menyelesaikan khutbah beliau, beliau turun dari mimbar beliau, dan beliau membawa kambing kibasy lalu  beliau shollallahu 'alaihi wasallam menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri, dan beliau berkata: Bismillah wallahu akbar. Hadza 'annii wa 'amman laa yudhohhi min ummatii.

HR. Imam Ahmad dalam musnadnya no. 14895, juz 23, hal. 172

Hadis yang ketiga riwayat Jabir ini juga terdapat dalam Sunan Abi Dawud no. 2810, juz 3, hal. 99, dan dalam Sunan at-Tirmidzi no. 1521, juz 4, hal. 100.

(3) Hadis Abu Hurairah

عن أبي هريرة قال: «ضحى رسول الله صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين، أحدهما عنه وعن أهل بيته، والآخر عنه وعمن لم يضح من أمته»

Dari Abu Hurairah, beliau berkata: Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam berqurban dua kambing kibasy yang warna putinya lebih mendominasi dari warna hitamnya. Seekor untuk beliau dan keluarga beliau. Sedangkan seekornya lagi untuk beliau dan untuk umat beliau yang tidak berqurban.

HR. At-Thobaroni dalam al-Mu'jamul Ausath no. 6467, juz 6, hal. 300

(4) Hadis Abu Hurairah atau Sayyidah 'Aisyah

عن أبي هريرة، أن عائشة قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم " إذا ضحى اشترى كبشين عظيمين، سمينين أقرنين، أملحين موجوئين قال: فيذبح أحدهما عن أمته ممن أقر بالتوحيد، وشهد له بالبلاغ، ويذبح الآخر عن محمد، وآل محمد

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Sayyidah 'Aisyah berkata: Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam ketika akan berqurban membeli dua ekor kambing yang besar, gemuk, bertanduk, warna putihnya lebih mendominasi dari warna hitamnya dan dikebiri. Beliau berkata: lalu beliau menyembelih seekor untuk ummatnya yang mengikrarkan tauhid dan menyaksikan padanya telah disampaikannya risalah, dan menyembelih seekor lagi untuk beliau sendiri dan keluarga beliau.

HR. Imam Ahmad dalam musnadnya no. 25842, juz 43, hal. 37

عن عائشة، وأبي هريرة رضي الله عنهما، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين سمينين عظيمين أملحين أقرنين موجوئين فذبح أحدهما فقال: «اللهم عن محمد وأمته من شهد لك بالتوحيد وشهد لي بالبلاغ»

Dari Sayyidah Aisyah dan Abu Hurairah Rodhiyallahu 'anhumaa, sesungguhnya Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam mengqurbankan dua kambing kibasy yang gemuk, besar, warna putihnya lebih mendominasi dari warna hitamnya, bertanduk, dan dikebiri. Lalu, menyembelih salah satunya. Kemudian berdoa: Yaa Allah, dari Muhammad dan ummatnya yang bersaksi pada-Mu dengan tauhid dan bersaksi pada-ku dengan tersampaikannya risalah.

HR. Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak no. 7547, juz 4, hal. 253

عن عائشة أو عن أبي هريرة: أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - كان إذا أراد أن يضحي اشترى كبشين عظيمين سمينين أقرنين أملحين موجوءين، فذبح أحدهما عن أمته، لمن شهد لله بالتوحيد، وشهد له بالبلاغ، وذبح الآخر عن محمد وعن آل محمد - صلى الله عليه وسلم -.

Dari Sayyidah Aisyah atau dari Abu Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah -Shollallahu 'alaihi wasallam- ketika beliau menghendaki untuk berqurban, beliau membeli dua ekor kambing kibasy yang besar, gemuk, bertanduk, warna putihnya lebih mendominasi dari warna hitamnya, lagi dikebiri. Lalu beliau menyembelih seekor untuk umatnya yang menyaksikan Allah dengan tauhid, dan menyaksikan beliau dengan tersampaikannya risalah, dan menyembelih seekor yang lain untuk Muhammad (beliau sendiri) dan keluarga beliau -Shollallahu 'alaihi wasallam-.

HR. Ibnu Majah dalam sunan-nya no. 3122, juz 4, hal. 301.

(5) Hadits Abu Thalhah

عن أبي طلحة، أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين فقال عند الأول: «عن محمد وآل محمد» وقال عند الثاني: «عمن آمن بي وصدقني من أمتي»

Dari Abu Thalhah, sesungguhnya Nabi shollallahu 'alaihi wasallam berqurban dengan dua ekor kambing kibasy yang warna putihnya lebih mendominasi dari warna hitamnya. Lalu beliau bersabda ketika menyembelih kambing yang pertama:  Dari Muhammad dan aali Muhammad. Dan beliau bersabda ketika menyembelih kambing yang kedua: Dari orang yang beriman padaku dan membenarkanku dari kalangan umatku.

HR. at-Thobaroni dalam al-Mu'jamul Kabir no. 4736, juz 5, hal. 106. Dalam kitab Majma'uz Zawaa-id no. 5973, juz 4, hal. 22 disebutkan bahwa seluruh periwayatnya adalah periwayat hadis shahih.

(6) Hadits Anas

وعن أنس قال: «ضحى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - بكبشين أقرنين أملحين، فقرب أحدهما فقال: " بسم الله [اللهم] منك ولك هذا عن محمد وأهل بيته ". وقرب الآخر وقال: " بسم الله اللهم منك ولك هذا عن من وحدك من أمتي» ".

Dari Anas, beliau berkata: Rasulullah -shollallahu 'alaihi wasallam- berqurban dengan dua ekor kambing kibasy yang bertanduk yang warna putihnya lebih mendominasi dari warna hitamnya. Lalu beliau mendekati salah satunya, kemudian berkata: Bismillah (Allahumma) dari-Mu dan untuk-Mu ini dari Muhammad dan keluarganya. Dan mendekati yang satunya, lalu mengatakan: Bismillah. Yaa Allah dari-Mu dan untuk-Mu ini dari orang yang mentauhidkan-Mu dari kalangan ummatku.

HR. At-Thobaroni dalam al-Mu'jamul Ausath no. 3278, juz 3, hal. 319. Dalam kitab Majma'uz Zawaa-id no. 5972, juz 4, hal. 22 disebutkan bahwa dalam sanadnya ada al-Hajjaj bin Arthoh yang meskipun tsiqoh (terpercaya), namun mudallis.

(7) Hadits Jabir dalam versi yang lain

عن جابر بن عبد الله، قال: ذبح النبي صلى الله عليه وسلم يوم الذبح كبشين أقرنين أملحين موجأين، فلما وجههما قال: «إني وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض على ملة إبراهيم حنيفا، وما أنا من المشركين، إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له، وبذلك أمرت وأنا من المسلمين، اللهم منك ولك، وعن محمد وأمته باسم الله، والله أكبر» ثم ذبح.

Dari Jabir bin Abdullah, beliau berkata: Nabi shollallahu 'alaihi wasallam menyembelih di hari qurban dua ekor kambing yang bertanduk, yang warna putihnya lebih mendominasi dari warna hitamnya, dan dikebiri. Setelah mengarahkan keduanya (ke kiblat), Beliau berkata,’Sesungguhnya aku hadapkan wajahku secara lurus kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah bagi Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagiNya dan itulah yang telah diperintahkan kepadaku, dan aku orang yang pertama berserah diri. Ya, Allah! Sesungguhnya ini dariMu dan untukMu, kurban dari Muhammad dan umatnya.’ Kemudian Beliau menyebut asma Allah, bertakbir lalu menyembelihnya.

HR. Abu Dawud no. 2795, juz 3, hal. 95
Al-Baihaqi dalam Ma'rifatus sunan wal Atsar no. 19046, juz 14, hal. 49 dan Syu'abul Iman no. 6942, juz 9, hal. 438
Redaksi yang hampir mirip dengan ini:
Imam Ahmad dalam musnadnya no. 15022, juz 23, hal. 267
Ibnu Majah dalam sunannya no. 3121, juz 4, hal. 300
Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no. 2899, juz 4, hal. 287
Al-Hakim dalam al-Mustadrok no. 1716, juz 1, hal. 639
Ad-Darimi dalam sunannya no. 1989, juz 2, hal. 1239

B. Syarh (Penjelasan) Hadits

Setelah pemaparan mutuun (redaksi-redaksi) hadits di atas. Dapat kita ketahui bahwa derajat-derajat hadits itu ada yang shahih dan juga ada yang hasan lighoirihi (hadis dhoif yang meningkat statusnya menjadi hadis hasan).

Dalam kitab Takhrij Ahaadiitsi Ihya':

- (وقال أبو أيوب الأنصاري كان الرجل يضحي على عهد رسول الله - صلّى الله عليه وسلم - بالشاة عن أهل بيته فيأكلون ويطعمون).

Abu Ayyub al-Anshori berkata: Seseorang di masa Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam berqurban dengan seekor kambing untuk anggota keluarganya. Kemudian, mereka memakannya dan memberi makan untuk orang lain.

قال العراقي: رواه الترمذي وابن ماجه من حديثه قال الترمذي حسن صحيح اه
Al-Iroqi berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadisnya. Imam Tirmidzi berkata hadis ini statusnya Hasan Shahih.

 اعلم أن هذا الحديث والذي تقدم قبله عن جابر وفيه هذا عني وعمن لم يضح من أمتي يدلان أن الشاة الواحدة تجزئ عن أكثر من واحد واستدل البيهقي بحديث جابر أيضاً على نفي وجوب التضحية.

Ketahuilah bahwa hadits ini dan hadits sebelumnya dari Jabir yang terdapat redaksi hadza 'anni wa 'amman lam yudhohhi min ummatii (ini dariku dan dari orang yang tidak menyembelih qurban dari kalangan ummatku) menunjukkan bahwa seekor kambing mencukupi untuk digunakan lebih dari satu orang. Al-Baihaqi berdalil juga dengan hadis Jabir bahwa hukum berqurban tidaklah wajib.

Dalam kitab Nailul Author, disebutkan pada:
باب الاجتزاء بالشاة لأهل البيت الواحد
Bab Tercukupinya menyembelih seekor kambing untuk seluruh anggota keluarga

والعمل على هذا عند بعض أهل العلم وهو قول أحمد وإسحاق واحتجا بحديث «أن النبي - صلى الله عليه وسلم - ضحى بكبش فقال هذا عمن لم يضح من أمتي» وقال بعض أهل العلم: لا تجزئ الشاة إلا عن نفس واحدة وهو قول عبد الله بن المبارك وغيره من أهل العلم انتهى.

Beramal pada hadis ini menurut sebagian ulama dan juga qoul (pendapat) Imam Ahmad dan Ishaq, dan juga berhujjah dengan hadis "sesungguhnya Rasulullah - shollallahu alaihi wasallam- berqurban dengan seekor kambing kibasy, lalu beliau berkata: ini dari orang yang tidak berqurban dari kalangan ummatku".
Sebagian Ulama yang lain berpendapat: Tidak mencukupi seekor kambing kecuali hanya dari seorang saja. Ini adalah qoul 'Abdullah bin al-Mubarok dan selainnya dari kalangan Ulama.

قوله: (يضحي بالشاة عنه وعن أهل بيته) فيه دليل على أن الشاة تجزئ عن أهل البيت؛ لأن الصحابة كانوا يفعلون ذلك في عهده - صلى الله عليه وسلم - والظاهر اطلاعه فلا ينكر عليهم ويدل على ذلك أيضا حديث «على كل أهل بيت في كل عام أضحية»

Perkataannya (berqurban dengan seekor kambing untuknya dan untuk anggota keluarganya). Disini terdapat dalil bahwa qurban seekor kambing mencukupi untuk anggota keluarga. Hal ini karena para sahabat melakukannya di masa Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam -tentu hal ini sampai kepada Rasulullah dan beliau tidak mengingkari- dan dalil pada hal demikian ini juga adanya hadits:" Bagi setiap anggota keluarga, pada tiap tahun, hendaknya berqurban".

C. Pendapat Ulama pakar Fiqh mu'tabaroh

ثم إن الحنفية القائلين بالوجوب يقولون: إنها واجبة عينا على كل من وجدت فيه شرائط الوجوب. فالأضحية الواحدة كالشاة وسبع البقرة وسبع البدنة إنما تجزئ عن شخص واحد. ٩ - وأما القائلون بالسنية فمنهم من يقول: إنها سنة عين أيضا، كالقول المروي عن أبي يوسف فعنده لا يجزئ الأضحية الواحدة عن الشخص وأهل بيته أو غيرهم. ومنهم من يقول: إنها سنة عين ولو حكما، بمعنى أن كل واحد مطالب بها، وإذا فعلها واحد بنية نفسه وحده لم تقع إلا عنه، وإذا فعلها بنية إشراك غيره في الثواب، أو بنية كونها لغيره أسقطت الطلب عمن أشركهم أو أوقعها عنهم. وهذا رأي المالكية، وإيضاحه أن الشخص إذا ضحى ناويا نفسه فقط سقط الطلب عنه، وإذا ضحى ناويا نفسه وأبويه الفقيرين وأولاده الصغار، وقعت التضحية عنهم، ويجوز له أن يشرك غيره في الثواب - قبل الذبح - ولو كانوا أكثر من سبعة بثلاث شرائط: (الأولى) : أن يسكن معه.
(الثانية) : أن يكون قريبا له وإن بعدت القرابة، أو زوجة. (الثالثة) : أن ينفق على من يشركه وجوبا كأبويه وصغار ولده الفقراء، أو تبرعا كالأغنياء منهم وكعم وأخ وخال. فإذا وجدت هذه الشرائط سقط الطلب عمن أشركهم. وإذا ضحى بشاة أو غيرها ناويا غيره فقط، ولو أكثر من سبعة، من غير إشراك نفسه معهم سقط الطلب عنهم بهذه التضحية، وإن لم تتحقق فيهم الشرائط الثلاث السابقة. ولا بد في كل ذلك أن تكون الأضحية ملكا خاصا للمضحي، فلا يشاركوه فيها ولا في ثمنها، وإلا لم تجزئ، كما سيأتي في شرائط الصحة.  ١٠ - ومن القائلين بالسنية من يجعلها سنة عين في حق المنفرد، وسنة كفاية في حق أهل البيت الواحد، وهذا رأي الشافعية والحنابلة. فقد قالوا: إن الشخص يضحي بالأضحية الواحدة - ولو كانت شاة - عن نفسه وأهل بيته. وللشافعية تفسيرات متعددة لأهل البيت الواحد (والراجح) تفسيران: (أحدهما) أن المقصود بهم من تلزم الشخص نفقتهم، وهذا هو الذي رجحه الشمس الرملي في نهاية المحتاج. (ثانيهما) من تجمعهم نفقة منفق واحد ولو تبرعا، وهذا هو الذي صححه الشهاب الرملي بهامش شرح الروض.
قالوا: ومعنى كونها سنة كفاية - مع كونها تسن لكل قادر منهم عليها - سقوط الطلب عنهم بفعل واحد رشيد منهم، لا حصول الثواب لكل منهم، إلا إذا قصد المضحي تشريكهم في الثواب. ومما استدل به على كون التضحية سنة كفاية عن الرجل وأهل بيته حديث أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه قال: {كنا نضحي بالشاة الواحدة يذبحها الرجل عنه وعن أهل بيته، ثم تباهى الناس بعد فصارت مباهاة} . وهذه الصيغة التي قالها أبو أيوب رضي الله عنه تقتضي أنه حديث مرفوع.

Lanjutan terjemahan
Madzhab Hanafiyah yang mengatakan bahwa qurban itu wajib, berpendapat: Maksudnya adalah wajib 'ain (wajib per individu) bagi setiap orang yang terpenuhi syarat-syarat wajib. Maka, qurban seekor seperti seekor kambing, sepertujuh sapi, dan sepertujuh unta hanya mencukupi bagi seorang saja.
Adapun mereka yang berpendapat qurban itu sunnah, termasuk mereka yang mengatakan: itu sunnah 'ain (sunnah per individu) juga, seperti qoul yang diriwayatkan dari Abu Yusuf, maka menurut dia tidak mencukupi seekor sembelihan untuk seorang dan keluarganya, atau yang lain.
Termasuk juga mereka yang berpendapat: qurban itu sunnah 'ain, meski dari sisi hukum, maksudnya bahwa setiap orang dituntut mengerjakannya. Ketika seorang mengerjakannya dengan niat untuk dirinya saja, maka tidak berpengaruh pada siapapun kecuali hanya dirinya saja. Dan ketika qurban itu dikerjakan dengan niat menyerikatkan/menggabungkan selain dia dalam pahala qurban, atau dengan niat keberadaan qurban itu untuk selainnya, gugurlah tuntutan anggota yang diserikatkan itu atau berpengaruh qurban itu pada mereka.
Ini adalah pendapat Madzhab Malikiyah, dan qurbannya bahwa seseorang ketika berqurban berniat untuk dirinya saja, gugurlah tuntutan qurban darinya. Dan ketika berqurban dengan niat untuk dirinya sendiri, dari kedua orangtuanya yang faqir, dan anak-anaknya yang masih kecil, maka qurban itu berpengaruh pada mereka. Dan diperbolehkan juga baginya jika menserikatkan selainnya dalam pahalanya -sebelum menyembelih- meskipun lebih dari 7 orang, dengan 3 syarat:
(1) Bertempat tinggal dengannya/Serumah;
(2) anggota itu ada hubungan kerabat dengannya meskipun kerabat jauh, atau isteri;
(3) Jika dia wajib menafkahi pada orang yang berserikat itu, seperti kedua orangtuanya dan anak-anaknya yang masih kecil lagi faqir, atau tabarru' seperti orang kaya dari mereka, seperti paman dari pihak ayah, saudara, dan paman dari pihak ibu.

Maka, ketika syarat-syarat ini terpenuhi, gugurlah tuntutan dari orang yang berserikat itu.
Jika dia berqurban dengan seekor kambing atau selain kambing dengan niat untuk selainnya saja, meskipun lebih banyak dari 7 orang, tanpa menggabungkan dirinya dengan mereka, gugurlah tuntutan dari mereka dengan qurban ini, meskipun mereka tidak memenuhi 3 syarat yang lalu.
Dan diharuskan pada setiap perkara qurban itu, jika hewan qurban itu milik khusus bagi yang berqurban, bukan berserikat di dalamnya, bukan pula dalam harganya. Jika tidak, maka tidak mencukupi sebagaimana tersebut dalam syarat sah.

Termasuk yang mengatakan bahwa qurban itu hukumnya sunnah, hanya saja terbagi dua: sunnah 'ain bagi munfarid (perseorangan), dan sunnah kifayah bagi yang mempunyai keluarga yang satu. Ini adalah prndapat Madzhab Syafii dan Madzhab Hanbali.
Mereka mengatakan: Seseorang hendaknya berqurban dengan seekor qurban -setidaknya seekor kambing- darinya dan dari keluarganya.
Menurut Madzhab Syafii ada beberapa tafsir bagi keluarga yang satu, (yang rajih/kuat) ada 2 tafsir:
(1) Maksudnya adalah orang yang berada dalam tanggungan nafkahnya. Pendapat ini dikuatkan oleh al-Imam Asy-Syamsur Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj.
(2) orang yang dinafkahi yang nafkahnya menyatu dengan mereka meskipun tabarru'. Ini adalah pendapat yang dishahihkan oleh Imam Ash-Shihab ar-Ramli di Hamisy syarh ar-Raudh.

Mereka mengatakan: Dan makna keberadaan qurban itu sunnah kifayah -di satu sisi hukumnya sunnah bagi setiap yang mampu dari mereka untuk berqurban- yaitu gugurnya tuntutan dari mereka dengan qurban yang dilakukan oleh salah seorang yang dewasa dari mereka, bukan dapatnya pahala bagi semuanya, kecuali jika orang yang berqurban menyengaja menserikatkan mereka dalam pahala.
Termasuk sebagian dalil yang menunjukan bahwa qurban itu sunnah kifayah dari seseorang dan keluarganya, yaitu hadis Abu Ayyub al-Anshari Rodhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
Kami berqurban dengan seekor kambing, seseorang menyembelihnya  untuk dirinya dan keluarganya, kemudian orang-orang saling berbangga setelahnya hingga berlaku sombong.
Redaksi ini yaitu yang dikatakan Abu Ayyub al-Anshori Rodhiyallahu 'anhu menunjukkan bahwa ini adalah hadits marfu'.

(DARI KITAB AL-MAUSU'AH AL-FIQHIYYAH AL-KUWAITIYAH)

D. Wallahu a'lam

Senin, 20 Januari 2014

Dalil anjuran membaca al-Quran bersama-sama (Kitab at-Tibyan fii Adabi Hamalatil Quran)

فصل: في استحباب قراءة الجماعة مجتمعين، وفضل القارئين من الجماعة والسامعين، وبيان فضيلة من جمعهم عليها وحرضهم وندبهم إليها. اعلم أن قراءة الجماعة مجتمعين مستحبة بالدلائل الظاهرة، وأفعال السلف والخلف المتظاهرة؛ فقد صح عن النبي -صلى الله عليه وآله وسلم- من رواية أبي هريرة وأبي سعيد الخدري -رضي الله عنهما- أنه قال: ((مَا مِنْ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا حَفَّتْ بِهِمُ الْمَلائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ)) قال الترمذي: حديث حسن صحيح، وعن أبي هريرة -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وآله وسلم- قال: ((مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ في بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ)) رواه مسلم وأبو داود بإسناد صحيح على شرط البخاري ومسلم، وعن معاوية -رضي الله عنه- ((أن النبي -صلى الله عليه وآله وسلم- خرج على حلقة من أصحابه فقال: مَا يُجْلِسُكُمْ؟ قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ لِمَا هَدَانَا لِلإِسْلامِ وَمَنَّ عَلَيْنَا بِهِ، فَقَالَ: أَتَانِي جِبْرِيلُ عليه السلام فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ تعالى يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلائِكَةَ)) رواه الترمذي والنسائي وقال الترمذي: حديث حسن صحيح، والأحاديث في هذا كثيرة. وروى الدارمي بإسناده عن ابن عباس -رضي الله عنهما- قال: ((مَنِ اسْتَمَعَ إِلَى آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ كَانَتْ لَهُ نُورًا))، وروى ابن أبي داود أن أبا الدرداء -رضي الله عنه- كان يدرس القرآن معه نفر يقرؤون جميعًا، وروى ابن أبي داود فعل الدراسة مجتمعين عن جماعات من أفاضل السلف والخلف وقضاة المتقدمين، وعن حسان بن عطية والأوزاعي أنهما قالا: أول من أحدث الدراسة في مسجد دمشق هشام بن إسماعيل في قدمته على عبد الملك، وأما ما روى ابن أبي داود عن الضحاك بن عبد الرحمن بن عرزب أنه أنكر هذه الدراسة، وقال: ما رأيت ولا سمعت وقد أدركت أصحاب رسول الله -صلى الله عليه وآله وسلم- يعني ما رأيت أحدًا فعلها، وعن وهب قال: قلت لمالك: أرأيت القوم يجتمعون فيقرؤون جميعًا سورة واحدة حتى يختموها؟ فأنكر ذلك وعاب، وقال: ليس هكذا تصنع الناس؛ إنما كان يقرأ الرجل على الآخر يعرضه، فهذا الإنكار منهما مخالف لما عليه السلف والخلف، ولما يقتضيه الدليل فهو متروك، والاعتماد على ما تقدم من استحبابها، لكن القراءة في حال الاجتماع لها شروط قدمناها ينبغي أن يُعْتَنَى بها. والله أعلم.
وأما فضيلة من يجمعهم على القراءة ففيها نصوص كثيرة كقوله صلى الله عليه وآله وسلم: ((الدَّالُّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ))، وقوله صلى الله عليه وآله وسلم: ((لأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ))، والأحاديث فيه كثيرة مشهورة، وقد قال الله تعالى: {وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى} المائدة: 2، ولا شك في عظم أجر الساعي في ذلك. اهـ.

Pasal: Anjuran membaca Alquran secara bersama-sama, keutamaan orang yang membaca dan yang mendengar serta keutamaan orang yang mengumpulkan, mengajak dan menganjurkan mereka untuk melakukannya. Ketahuilah, membaca Alquran secara bersama-sama adalah dianjurkan berdasarkan dalil-dalil yang zahir dan perbuatan para salaf yang saling menguatkan. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Said al-Khudri secara shahih bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam bersabda,

مَا مِنْ قَوْمٍ يَذْكُرُوْنَ اللَّهَ إِلاَّ حَفَّتْ بِهِمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

"Tidaklah sekelompok orang berzikir kepada Allah kecuali mereka akan dikelilingi oleh para malaikat, dilingkupi oleh rahmat, ketenangan akan turun kepada mereka dan Allah akan menyebutkan mereka kepada makhluk yang ada di sisi-Nya." (Tirmidzi berkata, "Hadis hasan shahih.").

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam, beliau bersabda,

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ
الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

"Tidaklah sekelompok orang berkumpul di salah satu rumah Allah ta'ala sambil membaca Kitab Allah dan saling mengajarkan isinya kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan melingkupi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka dan Allah akan menyebut mereka kepada para makhluk yang ada di sisi-Nya." (HR. Muslim dan Abu Dawud dengan sanad shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan oleh Muawiyah Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam mendatangi sebuah halaqah yang dilakukan beberapa orang sahabatnya. Beliau lalu bertanya, "Apa yang membuat kalian berkumpul?" Mereka menjawab, "Kami duduk berkumpul untuk berzikir kepada Allah serta bersyukur kepada-Nya atas hidayah yang diberikan dan dianugerahkan kepada kami sehingga kami memeluk Islam." Lalu beliau bersabda,

أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَأَخْبَرَنِيْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُبَاهِى بِكُمُ الْمَلاَئِكَةَ

"Jibril alaihis salam baru saja mendatangiku dan memberitahuku bahwa Allah ta'ala membanggakan kalian kepada para malaikat." (HR. Tirmidzi dan Nasa`i. Tirmidzi berkata, "Hadis hasan shahih.").

Ad-Darimi meriwayatkan dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Barang siapa yang mendengarkan ayat dari Kitab Allah maka ia akan mendapatkan cahaya."

Ibnu Abi Dawud meriwayatkan bahwa Abu Darda` Rodhiyallahu ‘anhu mengajarkan Alquran dan beberapa orang yang bersamanya membaca secara bersama-sama. I

bnu Abi Dawud juga meriwayatkan tentang para ulama salaf, khalaf dan para hakim yang membaca Alquran secara bersama-sama.

Diriwayatkan dari Hassan bin 'Athiyah dan Awza'i, bahwa orang pertama yang menggelar pengajian Alquran di masjid Damaskus adalah Hisyam bin Ismail, yaitu di bagian depan masjid, ketika masa Abdul Malik.

Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari ad-Dhahhak bin Abdurrahman bin 'Irzab yang mengingkari acara membaca Alquran secara bersama-sama dengan mengatakan, "Saya tidak pernah melihat dan saya pun tidak pernah mendengar hal itu, padahal saya telah bertemu dengan para sahabat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam", maksudnya saya tidak pernah melihat seorang sahabat pun yang melakukannya. Begitu pula yang diriwayatkan oleh Wahb, ia berkata, "Saya bertanya kepada Malik, "Apa pendapatmu mengenai sekelompok orang yang berkumpul dan membaca satu surat secara bersama-sama hingga mengkhatamkannya?" Maka Malik mengingkari perbuatan itu dan mencelanya. Ia berkata, "Para salaf tidak melakukan yang demikian. Akan tetapi dulu seseorang yang membaca Alquran kepada orang lain." Pengingkaran kedua tokoh ini bertentangan dengan perbuatan para salaf dan khalaf serta dalil yang menjelaskan kebolehan perbuatan ini. Oleh karena itu, pendapat mereka berdua tidaklah dianggap, sedangkan yang menjadi pegangan adalah anjuran melakukannya sebagaimana yang telah disebutkan. Namun demikian, membaca Alquran secara bersama-sama mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi dan diperhatikan sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya. Wallahu a'lam.

Adapun keutamaan orang yang mengumpulkan mereka untuk membaca Alquran, maka terdapat banyak nash yang menjelaskan hal itu. Seperti sabda Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa aalihii wa sallam,

الدَّالُّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

"Orang yang menunjukkan kepada kebaikan seperti orang yang melakukannya." Dan sabda beliau,

لأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

"Menjadi perantara Allah dalam memberi hidayah kepada orang lain adalah lebih baik bagimu daripada seekor onta yang mahal." Hadis yang menjelaskan masalah ini banyak dan telah diketahui. Allah Subhanahu wa Ta'ala pun berfirman, "Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa". (Al-Mâidah: 2). Sehingga, tidak diragukan lagi mengenai besarnya pahala orang yang melakukan hal itu."

Rabu, 27 November 2013

ISTILAH KITAB-KITAB KLASIK (KHAZANAH INTELEKTUALITAS ULAMA)



Ketika mempelajari karakteristik kitab-kitab klasik, kita akan mendapatkan banyak istilah yang ber­ke­na­an dengannya. Adanya istilah-isti­lah itu merupakan salah satu bukti tradisi il­miah yang berkembang dalam khaza­nah pengetahuan Islam.



Matan
Berasal dari kata matn, yang ber­mak­­na keras (salb, sinonimnya). Bila kata matn disandingkan dengan kata lughah (matn al-lughah), berarti asal-usul, kosa­kata, dan lafal suatu bahasa. Bila dihu­bungkan dengan kata kitab (matn al-kitab), berarti teks asli kitab. Contoh kitab matan ini seperti kitab fiqih Al-Ghayah wa at-Taqrib, karya Abu Syuja, Az-Zubad, karya Ibn Ruslan, dan kitab tata bahasa Arab, seperti Al-Bina wa al-Asas serta Al-Ajurumiyyah.
Kitab matan ini terkadang juga di­susun dalam bentuk nazham (syair), se­perti kitab Az-Zubad, Alfiyyah Ibn Malik, Al-‘Imrithi, Manzhumah al-Yawaqit, karya Sayyid Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri, Aqidah al-‘Awam, karya Syaikh Ahmad Al-Marzuqi.
Dalam wacana keilmuan Islam pada perkembangan berikutnya, istilah matan atau bentuk jamaknya, mutun, bermakna kitab-kitab pokok yang menjadi pegang­an madzhab dan rujukan utama bagi madz­hab tersebut. Istilah matn yang spesifik ini berkembang terutama dalam Madzhab Hanafi, seperti kitab Al-Mukhtashar, karya Abu Al-Husain bin Ahmad bin Muham­mad Al-Kuduri, kitab Bidayah al-Mubtadi, Ad-Durr al-Mukhtar, dan Multaqa al-Abhur.

Syarah
Sebagai kata, memiliki arti yang ba­nyak, di antaranya memotong (qatha’a), menyingkap (kasyafa), membuka (fata­ha), memahami (fahima), menjelaskan (bayyana), menafsirkan (fassara), dan memperluas (wassa’a).
Dalam istilah fiqih, syarah bisa berarti penjelasan suatu istilah atau suatu kitab secara keseluruhan. Kitab syarah selalu dibarengi dengan teks asli (matan) dari kitab yang diulasnya. Contohnya, kitab Al-Majmu’, karya An-Nawawi, yang mensya­rah kitab Al-Muhadzdzab, karya Abu Ishaq Asy-Syirazi, dan kitab Fath al-Qarib, karya Ibn Al-Qasim Al-Ghuzzi, yang merupakan syarah kitab Al-Ghayah wa at-Taqrib, karya Syaikh Abu Syuja‘. Ada juga kitab Al-Kharit ‘ala Manzhumah al-Yawaqit oleh Sayyid Muhammad bin Hasyim Bin Thahir atas Manzhumah al-Yawaqit, karya Sayyid Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri. Begitu pula dengan Al-Muwaththa‘, karya Imam Malik, yang disyarah oleh Ibnu Salamah Al-Ahfasyi da­lam karyanya Tafsir Gharib al-Mu­wath­tha‘, kitab Kifayah al-‘Awam, yang disya­rah Al-Bantani dengan karya ber­judul ‘Aqidah al-‘Awam, kitab ar-Risalah, karya Al-Qairawani Al-Maliki, yang di­syarah Ibn Al-Fakhkhar Al-Judzami de­ngan karya berjudul Nash al-Maqalah fi Syarh ar-Risalah, kitab Al-Kharraj, karya Imam Abu Yusuf Al-Hanafi, yang disya­rah oleh Ibnu Muhammad Ar-Rahibi de­ngan karya berjudul Fiqh al-Muluk ‘ala Khizanah Kitab al-Kharaj.
Munculnya syarah atas suatu kitab matan adalah bukti aktivitas ilmiah dan akademis di kalangan ulama masa lam­pau. Upaya syarah sangat dibutuhkan un­tuk menerjemahkan maksud penulis kitab matan bagi para pembacanya, sehingga mereka dapat memahami teks-teks ter­sebut.
Tradisi syarah ini berkembang pesat setelah mapannya pembentukan madz­hab fiqih (tadwin al-madzahib) sekitar abad ke-3 H/8 M, bahkan kegiatan sya­rah telah muncul di masa tabi’in, ketika mereka melakukan syarah atas warisan karya yang ditinggalkan masa sahabat. Abu Zinad Abdullah bin Zakwan (w. 131 H/748 M), misalnya, mensyarah kitab Al-Fara‘idh, yang ditulis Zaid bin Tsabit (w. 45 H/665 M). Matan dan syarah bidang ilmu waris ini dinukil oleh Abu Bakar Ahmad Al-Baihaqi dalam kitabnya As-Sunan al-Kubra, sebuah kitab induk dalam hadits.

Hasyiyah
Sebagai kata, hasyiyah berarti ang­gota badan yang berada di dalam perut, seperti limpa dan jantung. Juga dapat ber­arti bagian pinggir baju. Jika artinya di­gabungkan dengan kitab (hasyiyah al-kitab), berarti catatan yang ditulis me­nyangkut isi kitab tersebut.
Dalam konteks fiqih, istilah hasyiyah merupakan penjelasan yang lebih luas dari syarah. Pada umumnya, hasyiyah merupakan tangga penjelasan ilmiah kedua atas karya matan setelah syarah. Contohnya, kitab Fath al-Qarib, karya Ibn Al-Qasim Al-Ghuzzi, yang merupa­kan syarah kitab Al-Ghayah wa at-Taq­rib, yang diberikan catatan tambahan dan perluasan oleh Ibrahim Al-Bajuri dalam karyanya Hasyiyah Al-Bajuri. Ada juga hasyiyah di bidang tafsir, seperti hasyiyah Syaikh Ahmad Ash-Shawi Al-Maliki atas kitab tafsir karya dua ulama agung, As-Suyuthi dan Al-Mahalli, yang dikenal dengan Hasyiyah Ash-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalayn.
Namun ada juga kitab hasyiyah, se­bagaimana yang dinamakan sendiri oleh penulisnya, yang mensyarah kitab ma­tan, langsung tanpa melalui syarahnya. Salah satu contohnya adalah karya Syaikh Abdullah bin Fadhl Asy-Syaikh Al-Asy­mawi atas kitab Matn al-Ajrumiy­yah yang berjudul Hasyiyah al-Asymawi.
Hasyiyah digunakan untuk menjelas­kan lebih jauh materi yang terdapat di kitab matan dan kitab syarah. Biasanya persoalan-persoalan yang kurang trans­paran dalam matan dan syarah diper­jelas lagi dalam karya yang disebut hasyiyah ini.

Mukhtashar
Sebagai kata mukhtashar berarti ringkasan, intisari. Istilah ini sepadan dengan kata khulashah dan mujaz.
Mukhtashar merupakan salah satu bentuk kreativitas ilmiah dalam sejarah intelektual Islam, karena tujuan penulis­an karya-karya ini untuk menyusun isi suatu kitab secara ringkas, sistematis, dan tematis, sehingga memudahkan ge­nerasi pelajar berikutnya untuk mema­hami dan menyelami pemikiran-pemikir­an pokok sang penulis.
Banyak kitab matan yang diringkas, seperti kitab Ihya ‘Ulum ad-Din, yang diringkas oleh pengarangnya sendiri, Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muham­mad Al-Ghazali, yang disebut Mukh­tashar al-Ihya. Al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal, yang diringkas oleh putranya, Abdullah bin Ahmad, dengan judul Tsulatsiyyat. Contoh lainnya, kitab Mukhtashar al-Mudawwanah, karya Al-Qairawani, yang merupakan ringkasan kitab Al-Mudawwanah al-Kubra, karya Abdussalam bin Said At-Tanukhi, kitab Asy-Syafi fi Ikhtishar al-Kafi, karya Abu Al-Baqa Al-Qurasyi, yang merupakan ringkasan kitab Al-Kafi fi al-Fiqh, karya Abu al-Fadhl Muhammad Al-Marwazi.

Hawamisy
Sebagai kata, hawamisy adalah ben­tuk jamak hamisy, yang artinya uraian pan­jang lebar atau kumpulan. Jika dikait­kan dengan kata kitab (hamisy al-kitab), artinya memberi penjelasan atas syarah atau hasyiyah, maupun ta’liqat (catatan-catatan berupa penilaian, sikap, kritik ter­hadap matan kitab atau hasil studi ter­hadap dalil/nash yang ada dalam kitab matan tersebut).
Dalam tradisi literatur, hamisy atau hawamisy ini adalah tulisan yang biasa­nya berada di luar margin kitab sumber­nya, baik berbentuk syarah, hasyiyah, maupun lain­nya. Contoh, Hasyiyah Al-Qalyubi wa Al-Umairah, yang berada di luar margin kitab Minhaj ath-Thalibin, karya Imam An-Nawawi. Artinya, hasyi­yah ini posisinya sebagai hamisy. Tapi ada juga yang di dalam margin.
Ada pula yang matannya diletakkan di luar margin, sehingga matan kitab itu disebut hamisy, seperti kitab Faydh al-Ilah al-Malik, karya Umar bin Muham­mad Al-Barakat, yang di luar margin kitab ma­tannya, ‘Umdah as-Salik wa ‘Uddah as-Salik, karya Syihabuddin Ahmad Al-Mishri. Maka karya yang disebut terakhir adalah sebagai hamisy-nya.




Minggu, 17 November 2013

Hukum Penambahan Nama Suami di Belakang Nama Istri


اطلعنا على البريد الإلكتروني المقيد برقم 1835 لسنة 2008م المتضمن:
الزواج في فرنسا يجعل الزوجة تحمل اسم زوجها. فما رأي الدين في ذلك؟ وهل يعيب المسلم أن يفعل ذلك؟

Memperhatikan permohonan fatwa No. 1835 tahun 2008 yang berisi:
    Di Prancis, pernikahan membuat seorang istri menambahkan nama suaminya di belakang namanya. Apa hukum masalah ini? Apakah seorang muslim tercela kalau melakukannya?

الـجـــواب : أمانة الفتوى 

 العرف الغربي قائم على أن البنت إذا لم تكن متزوجةً فإنها تُذكَر باسم أبيها وعائلتها، أما إذا كانت المرأة متزوجة فإنه يُضاف إلى اسمها لقب عائلة زوجها، وذلك بعد وصفها بكونها متزوجة بالمصطلح المفهوم من ذلك عندهم وهو: "مسز" أو "مدام" أو نحو ذلك، فتصير إضافة لقب عائلة الزوج حينئذ إلى اسم الزوجة في مثل هذا العرف قائمةً مقام قولنا: "فلانة متزوجة من عائلة فلان"، وهو نوع من التعريف الذي لا يوهم النسبة عندهم بحال، وباب التعريف واسع؛ فقد يكون بالولاء كما في: عكرمة مولى ابن عباس، وقد يكون بالحرفة كما في: الغزالي، وقد يكون باللقب أو الكنية، كالأعرج والجاحظ وأبي محمد الأعمش، وقد يُنسَب إلى أمه مع معرفة أبيه كما في: إسماعيل ابن عُلَيَّة، وقد يكون بالزوجية كما ورد في القرآن من تعريف المرأة بإضافتها إلى زوجها في مثل قوله تعالى: ﴿امْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ﴾ [التحريم: 10]، ﴿امْرَأَةَ فِرْعَوْنَ﴾ [التحريم: 11].
وقد روى البخاري ومسلم من حديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه «أَنَّ زَيْنَبَ امْرَأَةَ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا جَاءَتْ تَسْتَأْذِنُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ زَيْنَبُ تَسْتَأْذِنُ عَلَيْكَ، فَقَالَ: أَيُّ الزَّيَانِِبِ؟ فَقِيَلَ: امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: نَعَمْ؛ ائْذَنُوا لَهَا, فَأُذِنَ لَهَا».
والمحظور في الشرع إنما هو انتساب الإنسان إلى غير أبيه بلفظ البنوة أو ما يدل عليها، لا مطلق النسبة والتعريف، وقد يشيع بعض هذه الأشكال من التعريف في بعض الأماكن أو في بعض الأحوال ويغلب في الإطلاق حتى يصير عُرفًا، ولا حَرج في ذلك ما دام لا يوهم الانتساب الذي يأباه الشرع، وهو الانتساب بلفظ البنوة أو معناها إلى غير الأب، كما أن ذلك لايُعَدُّ من التشبه المذموم شرعًا؛ إذ التشبه إنما يكون حرامًا بشرطين: أن يكون الفعل المتشبَّه به منهيًّا عنه في نفسه، وأن يكون المتشبِّه يقصد التشبه، فإذا انتفى أحد الشرطين لم يُذَمَّ الفاعل شرعًا؛ ومما يدل على ذلك ما رواه الإمام مسلم في صحيحه 624 عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: «اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، فَصَلَّيْنَا وَرَاءَهُ وَهُوَ قَاعِدٌ، فَالْتَفَتَ إِلَيْنَا فَرَآنَا قِيَامًا، فَأَشَارَ إِلَيْنَا فَقَعَدْنَا، فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ: إِنْ كِدْتُمْ آنِفًا لَتَفْعَلُونَ فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّومِ؛ يَقُومُونَ عَلَى مُلُوكِهِمْ وَهُمْ قُعُودٌ فَلَا تَفْعَلُوا، ائْتَمُّوا بِأَئِمَّتِكُمْ؛ إِنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا، وَإِنْ صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا».
و"كاد" تدل في الإثبات على انتفاء خبرها مع مقاربة وقوعه، وفعل فارس والروم وقع منهم فعلا لكن الصحابة لَمّا لم يقصدوا التشبه انتفى ذلك الوصف عنهم شرعًا.
ولذلك قال العلامة ابن نُجَيم الحنفي في (البحر الرائق 2/ 11): "اعلم أن التَّشَبُّهَ بأهل الكتاب لا يُكرَه في كل شيء، وإنا نأكل ونشرب كما يفعلون، إنما الحرام هو التشبه فيما كان مذمومًا وفيما يقصد به التشبه". اهـ. وليس في إضافة لقب عائلة الزوج إلى اسم زوجته ما ينفي نسبَها إلى أبيها، بل هو من باب التعريف كما سبق. وإنما أتى اشتباه التحريم مِن غلبة حذف كلمة ابن في الاسم بين الابن وأبيه، وهذا وإن كان قد يمكن توجيهه بالحذف لكثرة الاستعمال تخفيفًا إلا أنه أَورث اللَّبس في الأسماء المركبة وغيرها مما لا يُقصَد به النسب، وهذا ما دعا بعضَ الجهات الرسمية إلى إلغاء الأسماء المركبة؛ لإيهامها النسب بين جزأي المركَّب؛ لأن حذف كلمة ابن بين المنتسبين صار أشبهَ بالعرف العام، فقد يتجه حينئذ منعُ إضافة لقب عائلة الزوج لاسم الزوجة بين أصحاب هذا العرف؛ لإيهامه النسب الشرعي، لكنَّ الأمر يختلف عند وجود العرف بإضافة لقب عائلة الزوج لاسم الزوجة مع وضوح القرينة التي تنفي كونَ هذا نسبًا شرعيًّا -وهي هنا وصفها بكونها امرأة متزوجة: "مسز" أو "مدام" أو نحوهما-، وطالما أن هذا العرف لا يخالف الشرع فالأخذ به جائز لا حرج فيه إن شاء الله تعالى، والشرع الشريف قد اعتبر الأعراف -ما لم تخالفه- وجعلها مُحَكَّمةً؛ حتى صار مِن قواعد الفقهاء الكلية أن: "العادة مُحَكَّمة"، ولم يَدعُ المسلمين إلى التَّمَرُّد عليها أو تَقَصُّدِ مخالفتها؛ وذلك سعيًا وراء اندماجهم في مجتمعاتهم وعدم انعزالهم عنها، مما يمكنهم من التعايش والدعوة إلى صحيح الدين من غير صدام ولا نزاع مفتعل، وذلك كله فيما لا تعارض فيه مع أصل من الأصول الشرعية.

والله سبحانه وتعالى أعلم.

Jawaban : Dewan Fatwa 

    Dalam tradisi masyarakat Barat, seorang anak perempuan jika belum menikah maka di belakang namanya disebutkan nama ayah dan keluarganya. Namun, setelah menikah maka ia harus menambahkan nama keluarga suaminya setelah namanya. Selain itu, perempuan yang telah menikah juga harus memberikan penjelasan di depan namanya bahwa ia telah menikah, yaitu dengan meletakkan kata Mrs., Madam, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam kebiasaan masyarakat Barat ini, penambahan nama keluarga suami di belakang nama istri adalah seperti sebuah penjelasan bahwa perempuan itu telah menikah dengan seseorang dari keluarga suaminya. Menurut mereka, penggunaan model penjelasan seperti ini sama sekali tidak memunculkan kesalahpahaman adanya hubungan darah.

    Pemberian identitas bersifat lapang dan fleksibel sehingga dapat diungkapkan melalui berbagai cara. Contohnya penjelasan identitas dengan hak wala` --misalnya: Ikrimah maula Ibnu Abbas--, dengan pekerjaan –misalnya: al-Ghazzali (tukang tenun)—dan dengan gelar –seperti al-A'raj (si pincang), al-Jahizh (yang matanya melotot), Abu Muhammad--. Terkadang seseorang juga dinisbatkan kepada ibunya meskipun nama ayahnya diketahui, seperti Ismail ibnu Ulayyah. Dapat pula dengan hubungan pernikahan, seperti dalam ayat: "imra`atu Nuh dan imra`atu Luth" (at-Tahrîm: 10) dan ayat: "imra`atu Fir'aun" (at-Tahrîm: 11). Makna asli imra`ah adalah perempuan, sehingga makna asli dari kata-kata tersebut adalah "perempuan Nuh", "perempuan Luth" dan "perempuan Fir'aun". Namun ketika kata "perempuan" ini disandingkan dengan nama lelaki yang merupakan suaminya, maka maksudnya adalah istrinya.

    Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu bahwa Zainab istri Ibnu Mas'ud rodhiyallau ‘anhumaa datang kepada beliau dan meminta izin untuk bertemu. Lalu salah seorang yang ada di rumah berkata, "Wahai Rasulullah, Zainab meminta izin untuk bertemu." "Zainab siapa?" tanya beliau. "Istri Ibnu Mas'ud." Lalu beliau berkata, "Ya, persilahkan dia masuk."

    Yang dilarang dalam Islam adalah menisbatkan diri kepada orang yang bukan ayahnya dengan menggunakan kata-kata yang menunjukkan sebagai anak, seperti kata: anak, bin, binti dan lain sebagainya. Jadi yang dilarang bukan seluruh penisbatan atau penyebutan identitas. Penggunaan kata-kata tertentu untuk menjelaskan identitas seseorang sehingga menjadi kebiasaan dalam suatu masyarakat atau waktu tertentu adalah tidak apa-apa selama tidak menyeret pada kesalahpahaman adanya hubungan kekerabatan yang dilarang oleh syariat Islam. Hal itu pun tidak dapat dikategorikan dalam perbuatan menyerupai orang kafir yang dicela dalam pandangan syarak, karena penyerupaan yang dilarang adalah yang memenuhi dua syarat, yaitu perbuatan yang ditiru itu adalah perbuatan yang diharamkan dan adanya maksud untuk menyerupai. Jika salah satu syarat ini tidak ditemukan maka pelakunya tidak dapat dicela. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Pada suatu ketika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sakit. Lalu kami salat di belakang beliau yang melakukan salat dalam keadaan duduk. Lalu beliau menoleh ke arah kami dan melihat kami dalam keadaan bediri semua, maka beliau pun memberi isyarat kepada kami agar kami duduk, sehingga kami semua pun duduk. Setelah salam, beliau bersabda,

إِنْ كِدْتُمْ آنِفاً لَتَفْعَلُوْنَ فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّوْمِ، يَقُوْمُوْنَ عَلَى مُلُوْكِهِمْ وَهُمْ قَعُوْدٌ، فَلاَ تَفْعَلُوْا، اِئْتَمُّوْا بِأَئِمَّتِكُمْ، إِنْ صَلَّى قَائِماً فَصَلُّوْا قِيَاماً وَإِنْ صَلَّى قَاعِداً فَصَلُّوْا قُعُوْداً

"Sesungguhnya kalian tadi hampir saja melakukan perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang Persia dan Romawi. Mereka berdiri di hadapan para raja mereka yang sedang duduk. Janganlah kalian melakukan itu. Ikutilah imam kalian. Jika ia melakukan salat dalam keadaan duduk maka salatlah dalam keadaan duduk juga dan jika ia salat dalam keadaan berdiri maka salatlah dalam keadaan berdiri juga."

    Kata kidtum berasal dari akar kata kâda (hampir). Kata ini ketika berada dalam kalimat positif menunjukkan tidak terjadinya sesuatu yang menjadi khabarnya (predikatnya), meskipun ia hampir saja terjadi. Perbuatan orang-orang Persia dan Romawi telah benar-benar terjadi dan dilakukan oleh para sahabat, tapi karena mereka tidak bermaksud untuk mengikuti atau menyerupai perbuatan tersebut maka mereka tidak dianggap telah menyerupai orang-orang Persia dan Romawi.

    Ibnu Nujaim, salah seorang ulama Hanafi, berkata dalam kitabnya al-Bahr ar-Râiq, "Ketahuilah bahwa perbuatan menyerupai Ahlul Kitab tidak diharamkan secara mutlak. Kita makan dan minum seperti mereka. Yang diharamkan adalah menyerupai tindakan yang tercela dan dengan maksud mengikuti mereka."

    Menambahkan nama keluarga suami di belakang nama istri tidaklah menafikan hubungan nasab dengan ayah sang istri, karena hal ini hanya merupakan penjelas identitas saja. Munculnya kekhawatiran terhadap haramnya hal tersebut adalah karena terdapat kebiasan umum berupa penghapusan kata "bin" atau "binti" yang menghubungkan antara nama seseorang dengan nama orang tuanya.

    Meskipun penghapusan ini telah menjadi kebiasaan umum untuk mempersingkat nama atau memudahkan penyebutan, hanya saja penghapusan tersebut mengakibatkan kerancuan dalam nama-nama yang tersusun dari dua kata atau lebih. Hal inilah yang membuat berbagai instansi resmi di Mesir menolak penggunaan nama yang tersusun dari dua kata atau lebih, karena memberikan kesan adanya hubungan kekerabatan antar nama-nama itu disebabkan tradisi penghapusan kata "bin" atau "binti" telah menjadi fenomena umum dalam masyarakat. Semua ini dapat saja dijadikan alasan bagi pelarangan penambahan nama keluarga suami di belakang nama istri di kalangan masyarakat tersebut.

    Akan tetapi, masalah ini akan berbeda dalam masyarakat yang mempunyai kebiasaan tersebut namun terdapat tanda yang menafikan adanya hubungan kekerabatan antar nama-nama itu, yaitu penyebutan perempuan yang bersuami dengan Mrs., Madam dan lain sebagainya.

    Selama kebiasaan ini tidak bertentangan dengan syariat maka insyaallah penggunaannya dibolehkan. Syariat Islam sendiri menjadikan kebiasaan yang tidak bertentangan dengan syariat sebagai salah satu dalil. Dalam salah satu kaidah fikih dinyatakan bahwa al-'âdah muhakkamah (adat kebiasaan dapat menjadi sumber hukum).

    Syariat tidaklah menyerukan kaum muslimin untuk keluar dari kebiasaan masyarakat mereka. Hal ini sebagai upaya untuk membuat mereka dapat berasosiasi dengan masyarakat mereka dan tidak terisolasi dari dunia luar. Sehingga, mereka dapat hidup berdampingan dengan masyarakatnya dan dapat berdakwah kepada mereka untuk mengikut agama yang benar tanpa terjadi bentrokan dan persinggungan yang berefek negatif. Semua itu tentu saja selama kebiasaan tersebut tidak bertentangan dengan dasar-dasar agama.

Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.

Darul Ifta al-Mishriyyah